width=
width=
TOKOH  

Ketika Media Menjadi Alat Kartosoewirjo, Sukarno, dalam Mendukung Kemerdekaan Indonesia

Ilustrasi Gambar dengan AI

Dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia, perjuangan mengusir penjajah tidak hanya berlangsung di hutan dan medan perang, tetapi juga di meja redaksi surat kabar.

Lembar-lembar koran atau harian menjadi arena adu gagasan tentang masa depan bangsa.

Dua tokoh menonjol yang sama-sama memanfaatkan pers sebagai alat perjuangan adalah Sekarmadji Marijan Kartosuwiryo dan Sukarno.

Namun, meski sama-sama menggunakan pers atau media massa, arah yang mereka tuju sangat berbeda.

Kartosoewirjo pada mulanya dikenal sebagai aktivis pers Islam. Ia menulis di berbagai media pergerakan, mengkritik kolonialisme dan menolak sekularisme.

Dalam tulisannya, Islam tidak sekadar dipahami sebagai agama, melainkan sebagai sistem negara yang harus menggantikan tatanan politik modern.

Pengalamannya sebagai sekretaris HOS Tjokroaminoto membentuk cara berpikirnya; bahasa agama digunakan sebagai alat mobilisasi politik. Pers baginya bukan ruang netral, melainkan sarana dakwah ideologis.

Ketika Republik Indonesia berdiri, Kartosoewirjo menilai negara yang lahir belum sepenuhnya mencerminkan cita-cita Islam politik.

Sejak saat itu, tulisan-tulisannya berubah menjadi alat perjuangan teologis disamping perjuangan bersenjata.

Media tidak lagi sekadar menyuarakan aspirasi, tetapi menjadi instrumen perjuangan ideologi.

Saat yang sama, Sukarno menempuh jalan berbeda. Ia juga tumbuh dari dunia tulisan, aktif menulis sejak muda di berbagai media nasionalis.

Dalam esainya yang terkenal, Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme (1926), ia mencoba menjahit perbedaan ideologi agar tidak saling menghancurkan.

Baginya, pers adalah alat membangunkan kesadaran bangsa yang tertidur di bawah penjajahan.

Gaya tulis Sukarno emosional, penuh metafora, dan mudah dipahami rakyat.

Ia sadar bahwa bangsa terjajah harus lebih dulu diyakinkan bahwa mereka adalah satu bangsa.

Karena tulisan dan pidatonya, ia dipenjara oleh Belanda dan diadili dalam sidang 1930.

Namun justru dari ruang sidang itulah lahir pidato “Indonesia Menggugat” yang memperkuat semangat perlawanan nasional.

Di sinilah perbedaan mendasar kedua tokoh itu terlihat. Kartosoewirjo mengarahkan pers Islam untuk membangun negara berbasis syariat.

Sementara, Sukarno menggunakan pers nasionalis untuk menyatukan seluruh rakyat tanpa memandang agama atau golongan.

Yang satu menulis untuk membentuk umat sebagai basis ideologi politik, yang lain menulis untuk membangun bangsa sebagai komunitas politik.

Kisah keduanya menunjukkan bahwa media pada masa pergerakan bukan sekadar alat informasi, melainkan medan perang ideologi.

Kata-kata bisa menjadi jembatan persatuan, Pers dapat membangun kesadaran kolektif.

Sejarah Kartosoewirjo dan Sukarno mengajarkan satu hal penting bahwa pena memang lebih tajam dari pedang, tetapi arah tajamnya ditentukan oleh visi penulisnya.

Pada akhirnya, pers bisa melahirkan kemerdekaan, atau sebaliknya.

Fakta Peran Kartosoewirjo di Media:

1. Aktif menulis di media Islam

– Fadjar Asia
– Pembela Islam
– media Sarekat Islam dan PSII

Peran Sukarno di Media:

– Fikiran Ra’jat
– Soeloeh Indonesia Moeda
– Indonesia Merdeka*

2. Tulisan terkenalnya: “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme” (1926).

 

WWW.MDI.NEWS