width=
width=

Isak Tangis dan Doa Mengiringi Alm. Ustadz Ahmad Fauzi Abdul Halim

Suasana Duka Iringi Pemakaman Ustaz Ahmad Fauzi Abdul Halim

‎JAKARTA, MDI.NEWS. – Suasana duka mendalam menyelimuti keluarga, kerabat, serta para jemaah yang mengantarkan almarhum Ustaz Ahmad Fauzi Abdul Halim ke peristirahatan terakhir. Prosesi pemakaman berlangsung khidmat dan penuh haru pada Senin sore, 15 Juni 2026, sekitar pukul 13.29 WIB.

Masyarakat mengenal almarhum sebagai guru, ulama, dan pembimbing rohani yang bersahaja. Ratusan pelayat memenuhi area pemakaman. Mereka mengiringi prosesi dengan doa dan lantunan ayat suci Al-Qur’an.

Hamparan bunga aneka warna memenuhi makam almarhum. Nuansa merah muda, merah, dan ungu menjadi penghormatan terakhir dari keluarga serta pelayat. Sebuah nisan kayu sederhana menandai tempat peristirahatan abadi sang pendakwah. Nisan itu bertuliskan nama lengkap almarhum: Ahmad Fauzi Abd. Halim.

Momen Penuh Keharuan di Pusara

Mulyati dan Kunendi, besan almarhum, duduk di sisi makam. Mereka adalah orang tua Rizki Hayatun Nisa. Tatapan keduanya menyiratkan kesedihan mendalam. Seorang wanita berhijab abu-abu, ibu mertua Abdul Aziz (putra almarhum), merangkul erat cucu kecilnya. Bocah lelaki itu mengenakan setelan jas formal abu-abu. Sorot matanya menerawang ke arah pusara tempat sang kakek beristirahat.

Kunendi, besan almarhum, memakai jas hitam dan celana cokelat. Ia khusyuk memanjatkan doa sambil sesekali mengusap air mata. Di sekeliling pusara, para pelayat wanita berpakaian putih, berhijab, dan bermasker. Rizki Hayatun Nisa, menantu almarhum, termasuk di antara mereka. Mereka menyiramkan air suci ke tanah makam sebagai simbol ketulusan cinta.

Di latar belakang, saf-saf jemaah terlihat menghadiri prosesi. Beberapa di antaranya mengenakan seragam kuning. Kehadiran massa yang besar ini mencerminkan luasnya dampak dakwah dan kebaikan yang almarhum tanamkan semasa hidup.

Kepergian Ustaz Ahmad Fauzi Abdul Halim meninggalkan ruang kosong di hati para jemaah. Semasa hidup, beliau menunjukkan pribadi yang santun dan teguh menyebarkan syiar Islam. Nasihat-nasihatnya selalu menyejukkan dan menuntun.

“Beliau bukan hanya guru, tetapi juga orang tua rohani kami. Nasihatnya selalu menyejukkan dan menuntun. Kami sangat kehilangan, tetapi kami ikhlas karena Allah lebih menyayangi beliau,” ujar seorang jemaah dengan mata berkaca-kaca.

Usai tabur bunga dan penyiraman air, seluruh pelayat mengangkat tangan bersama. Tokoh agama setempat memimpin doa. Mereka memohon agar Allah menerima amal ibadah almarhum, mengampuni khilafnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

Selamat jalan, Ustaz. Dedikasi, ilmu bermanfaat, dan keluhuran budimu akan selalu hidup di hati kami. _Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

[Ayyub]

Penulis: Dzulkarnain AyyubiEditor: Dzulkarnain Ayyubi
WWW.MDI.NEWS