width=
width=

Jangan Acuh! Ini yang Terjadi pada Masa Depanmu Setelah Melewati atau Menghindari Quarter-Life Crisis

Sumber/Dok. Gemini.AI

MDI.NEWS | Bekasi – Quarter-life crisis atau masa di mana anak muda (sekitar usia 20–25 tahun) merasa bingung, cemas, dan hilang arah soal masa depannya. Masa ini kerap di jadikan sebagai masa yang sangat krusial dan bukan akhir dunia. Ia justru sinyal dari otak bahwa pola hidup atau pola pikir lama sudah tidak relevan lagi untuk melangkah ke depan.

Fase ini biasanya muncul di rentang usia 20 hingga 25 tahun, ditandai dengan kebimbangan arah karir, kecemasan soal masa depan, dan perasaan hampa meski rutinitas terlihat baik-baik saja dari luar. Ada dua jalan yang biasa diambil anak muda saat berada di titik ini: menghadapinya, atau memilih acuh dan berpura-pura baik-baik saja.

Bagi yang berani menghadapi, hasilnya terasa nyata. Kedewasaan emosional meningkat, lebih kenal batas kemampuan diri, dan berhenti terus-menerus membandingkan hidup dengan orang lain di media sosial. Arah hidup pun jadi lebih jelas, berani memangkas relasi yang melelahkan dan ekspektasi orang lain yang tidak lagi relevan dengan prioritas hidup yang otentik.

Kegagalan pun tidak lagi dimaknai sebagai akhir, melainkan sekadar data untuk mencoba dengan strategi berbeda. Inilah yang dalam psikologi disebut resiliensi, daya tahan mental yang tumbuh justru dari tekanan yang dikelola dengan baik.

Konsep post-traumatic growth menjelaskan hal serupa: krisis psikologis yang dihadapi, bukan dihindari, bisa menjadi pemicu utama pertumbuhan karakter dan daya tahan seseorang di masa depan. Sebaliknya, mereka yang memilih acuh justru hanya menunda masalah. Erik Erikson dalam teori perkembangan psikososialnya menyebut fase usia 18–40 tahun sebagai masa intimacy vs isolation.

Jika krisis ini terus diabaikan, seseorang cenderung terjebak dalam stagnasi, merasa hidup jalan di tempat tanpa arah yang jelas, bahkan hingga bertahun-tahun ke depan. Hidup pun berjalan dalam mode autopilot, pergi kerja atau kuliah tanpa rasa berdaya dan tanpa tahu untuk apa semua itu dilakukan. Lama-lama, seseorang bisa kehilangan jati dirinya sendiri karena terlalu sering mengikuti arus dan kemauan orang lain, alih-alih mendengarkan suara hatinya sendiri.

Rasa cemas di usia 20-an itu wajar, bahkan manusiawi. Yang justru berbahaya adalah memilih untuk tidak peduli dan membiarkan waktu berlalu begitu saja. Jangan takut merasa tersesat, takutlah jika kamu nyaman diam di tempat yang salah.

WWW.MDI.NEWS