width=
width=

Kenyang Tapi Berisiko, Dampak Konsumsi Tepung Berlebih Bagi Wanita

Ilustrasi

MDI.NEWS | Bekasi – Roti, mi instan, gorengan, kue, sampai pasta. Coba hitung, dari semua makanan yang kamu makan hari ini, berapa banyak yang berbahan dasar tepung? Buat banyak orang Indonesia, tepung sudah jadi bagian yang nyaris tak terpisahkan dari menu harian. Praktis, murah, dan gampang diolah jadi apa saja. Tapi di balik kepraktisan itu, ada risiko kesehatan yang pelan-pelan menumpuk, dan wanita jadi salah satu kelompok yang paling merasakan dampaknya.

Melansir dari UMY, ahli gizi Iman menjelaskan bahwa tubuh yang terlalu sering mengonsumsi tepung olahan lama-lama jadi kurang sensitif terhadap insulin, sehingga gula darah lebih sulit dikendalikan dan risiko obesitas maupun diabetes pun meningkat. Ini bukan cuma soal berat badan, tapi juga soal bagaimana tubuh mengatur energi setiap hari.

Efeknya nggak berhenti di situ. Tepung olahan yang sudah kehilangan sebagian besar serat, vitamin, dan mineralnya bikin sistem pencernaan bekerja lebih keras, memicu sembelit, perut kembung, hingga mengganggu keseimbangan bakteri baik di usus. Buat sebagian wanita, konsumsi tepung berlebihan bahkan dikaitkan dengan masalah kewanitaan seperti keputihan yang tidak normal, karena makanan tinggi tepung cenderung meningkatkan kadar asam dalam tubuh.

Belum lagi soal siklus lapar yang bikin susah berhenti. Tepung olahan punya indeks glikemik tinggi, jadi gula darah cepat naik lalu cepat turun drastis. Efeknya, rasa lapar datang lebih cepat dan dorongan untuk ngemil manis pun sulit ditahan. Siklus ini yang lama-lama bikin porsi makan membengkak tanpa disadari.

Bukan berarti tepung harus dihindari sama sekali. Kuncinya ada di keseimbangan: variasikan sumber karbohidrat dengan biji-bijian utuh, imbangi dengan sayur dan protein, dan jangan jadikan makanan bertepung sebagai menu utama setiap hari. Tubuh tetap butuh energi dari karbohidrat, tapi caranya yang perlu diatur ulang.

WWW.MDI.NEWS