width=
width=

FKI, UI, dan AsMEN Bahas Ketahanan Ekonomi Nasional

MDI.NEWS, Jakarta  – Forum Kepakaran Indonesia (FKI) bekerja sama dengan Sekolah Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) Salemba dan Asistensi Media Nasional (AsMEN) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Ekonomi Indonesia di Tengah Ketidakpastian Global: Antara Peluang Pertumbuhan, Ancaman Krisis, dan Strategi Memperkuat Ketahanan Ekonomi Nasional”. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi bagi akademisi, praktisi, dan insan media untuk mengkaji berbagai tantangan perekonomian Indonesia sekaligus merumuskan strategi penguatan ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global. Jumat (30/10/2026).

 

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Umum FKI Dr. Risman Pasaribu, S.E., M.M., Ketua Umum AsMEN Nurkholis CPLA, Direktur Sekolah Pascasarjana UI sekaligus Koordinator Dewan Pakar Lingkungan FKI Prof. Dr. Supriatna, M.A., serta Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nasional sekaligus Sekretaris Jenderal FKI Prof. Dr. Edi Sugiono, S.T., S.E., M.M, serta Dr. Sri Hayati, S.Sos., M.Si., yang bertindak sebagai moderator.

 

Dalam laporannya, Ketua Umum AsMEN Nurkholis menyampaikan bahwa kegiatan FGD tersebut merupakan bagian dari rangkaian diskusi strategis yang telah diselenggarakan bersama sejumlah kalangan. Sebelumnya, FKI dan AsMEN telah membahas persoalan partai politik serta utang negara. Melalui diskusi ketiga ini, kedua organisasi bersama kalangan akademisi Universitas Indonesia berupaya memperluas kajian mengenai persoalan ekonomi nasional dan menghasilkan pemikiran yang dapat disampaikan kepada pemerintah sebagai bahan pertimbangan kebijakan publik.

 

Direktur Sekolah Pascasarjana UI Prof. Dr. Supriatna, M.A., dalam sambutannya mengapresiasi terselenggaranya forum tersebut. Ia menilai tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi Indonesia yang menghadapi berbagai tantangan ekonomi, mulai dari ketimpangan pendapatan, daya beli masyarakat, hingga pengelolaan sumber daya alam. Menurutnya, pembangunan nasional perlu memperhatikan pemerataan kesejahteraan, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, serta penguatan kemampuan masyarakat dalam menghadapi perubahan ekonomi global. Ia juga menyoroti pentingnya pengelolaan sumber daya alam agar memberikan nilai tambah lebih besar bagi perekonomian dalam negeri.

 

Dalam pemaparannya, Prof. Supriatna menekankan bahwa ketahanan ekonomi nasional tidak dapat dilepaskan dari ketahanan pangan dan energi. Perubahan iklim, pergeseran pola musim, serta persoalan pengelolaan lahan pertanian menjadi tantangan yang perlu diantisipasi melalui perencanaan berbasis kondisi wilayah. Ia juga menilai hilirisasi sumber daya alam perlu diperkuat agar Indonesia tidak terus bergantung pada ekspor bahan mentah. “Kita harus mampu mengelola sumber daya alam yang dimiliki untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat dan memperkuat perekonomian nasional,” ungkapnya.

 

Sementara itu, Prof. Dr. Edi Sugiono, S.T., S.E., M.M., menjelaskan bahwa ketidakpastian ekonomi global dipengaruhi persaingan geopolitik, fragmentasi perdagangan internasional, perubahan kebijakan ekonomi negara-negara besar, fluktuasi harga komoditas, serta perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan. Menurutnya, Indonesia masih memiliki peluang pertumbuhan melalui pasar domestik yang besar, kekayaan sumber daya alam, dan perkembangan ekonomi digital. Namun, pertumbuhan ekonomi harus disertai peningkatan produktivitas, penciptaan lapangan kerja, pemerataan pendapatan, dan penguatan daya saing industri nasional. “Pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum tentu berkualitas apabila manfaatnya belum dirasakan secara luas oleh masyarakat,” tegasnya.

 

Dalam sesi diskusi, peserta juga menyoroti tekanan terhadap nilai tukar rupiah, tingginya suku bunga, kenaikan harga kebutuhan pokok, serta keberlanjutan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menanggapi persoalan tersebut, Prof. Edi menilai stabilitas ekonomi tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan moneter dan fiskal, tetapi harus didukung kepastian hukum, tata kelola pemerintahan yang transparan, serta kepercayaan investor. Ia juga menekankan bahwa investasi harus memberikan manfaat nyata melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan nilai tambah, transfer teknologi, dan penguatan keterkaitan industri dalam negeri. Pembahasan turut mencakup program food estate sebagai salah satu upaya memperkuat ketahanan pangan dan pemerataan pembangunan, yang menurut Prof. Supriatna perlu didasarkan pada kesesuaian lahan, data spasial yang akurat, kondisi lingkungan, serta karakteristik dan kemampuan masyarakat setempat.

 

Melalui FGD tersebut, FKI, Universitas Indonesia, dan AsMEN diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi strategis bagi pemerintah dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Hasil kajian diharapkan tidak berhenti sebagai wacana akademis, tetapi dapat dipublikasikan dan menjadi masukan bagi pengambil kebijakan, terutama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, memperkuat daya beli masyarakat, meningkatkan produktivitas, serta mengoptimalkan sumber daya alam secara berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat Indonesia.  (***)

Penulis: Rizki Trainar
WWW.MDI.NEWS