width=
width=

Al-Zaytun, Taman Ilmu dan Puncak Imajinasi Pendidikan

MDINEWS, Indramayu — Tidak semua orang mampu menjaga nyala belajar ketika usia terus bertambah. Banyak manusia berhenti membaca setelah memperoleh gelar, berhenti bertanya setelah memiliki kedudukan, dan berhenti mengembangkan diri setelah merasa cukup dengan pencapaian masa lalu. Namun, di hadapan keluarga besar Al-Zaytun, Drs. Amich Al Humami, M.Ed., Ph.D. melihat sosok yang berbeda: seorang pemimpin berusia 80 tahun yang masih membaca, belajar, menempuh pendidikan, dan terus memperluas cakrawala pemikirannya.

Bagi Amich, keadaan tersebut merupakan pelajaran penting. Usia boleh bertambah, tetapi semangat belajar tidak boleh berhenti. Seorang pendidik sejati harus terus membaca, berpikir, memperkaya pengetahuan, dan membuka dirinya terhadap perkembangan ilmu. Dari proses itulah lahir gagasan-gagasan yang mampu melampaui batas kebiasaan dan menjawab kebutuhan zaman.

Refleksi tersebut disampaikan dalam rangkaian Peringatan Hari Lahir Ke-80 Syaykh Al-Zaytun, Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, pada Kamis, 30 Juli 2026. Peringatan yang mengusung tema “Menyukuri Pencapaian dan Terus Melangkah Menuju Kemajuan” itu menjadi ruang perjumpaan antara rasa syukur, kesaksian para sahabat, refleksi pendidikan, dan harapan bagi masa depan bangsa.

Sejumlah tokoh nasional dan internasional hadir memberikan pesan. Mereka datang dari latar belakang pendidikan, pemerintahan, geopolitik, ekonomi, militer, kebudayaan, serta lingkungan kerajaan Nusantara. Kehadiran mereka menjadikan peringatan Milad bukan hanya acara seremonial, tetapi juga forum pertukaran gagasan mengenai pendidikan, kebangsaan, kemandirian, dan pembangunan peradaban.

Ketika tiba gilirannya menyampaikan sambutan, Drs. Amich Al Humami, M.Ed. Ph.D mengakui bahwa tidak mudah berbicara setelah paparan inspiratif Gita Wirjawan dan Prof. Dr. Connie Rahakundini Bakrie, M.Si. Karena itu, ia memilih tidak mengulang seluruh gagasan yang telah disampaikan para pembicara sebelumnya. Ia memberikan sejumlah penekanan yang dianggap penting untuk membaca sosok Syaykh Al-Zaytun dan karya pendidikan yang dibangunnya.

Amich mengawali sambutannya dengan menyampaikan penghormatan kepada Syaykh Al-Zaytun, Ummi Faridah Al-Widad, keluarga besar Al-Zaytun, serta para tamu kehormatan yang hadir. Di antaranya Prof. Connie Rahakundini Bakrie, Gita Wirjawan, Prof. Dr. Ermaya Suradinata, dan Sultan Paser XVIII dari Kalimantan Timur yang menyampaikan komitmen untuk mereplikasi konsep Al-Zaytun di daerahnya.

Ia juga menyampaikan salam hormat kepada sahabatnya, Mayjen TNI (Purn.) Kivlan Zein. Keduanya pernah bertemu dalam sebuah pusat kajian kebijakan dan pembangunan yang menjadi ruang diskusi para pemikir dan tokoh bangsa.

Di tengah suasana penuh kebahagiaan itu, Amich mengajak hadirin tidak hanya melihat usia ke-80 sebagai pencapaian biologis. Umur panjang harus dibaca melalui karya, pemikiran, dedikasi, dan manfaat yang diberikan seseorang kepada masyarakat.

Gresik dan Akar Tradisi Intelektual

Amich memulai refleksinya dari kesaksian salah seorang sahabat yang sejak awal mendampingi Syaykh Panji Gumilang membangun Al-Zaytun. Kesaksian tersebut menjelaskan perjalanan Syaykh sejak lahir di sebuah kampung di wilayah pesisir utara Jawa, tepatnya di Gresik.

Bagi Amich, Gresik bukan sekadar tempat kelahiran. Dalam sejarah Indonesia, baik pada masa kolonial maupun setelah kemerdekaan, Gresik merupakan salah satu pusat penting pergerakan sosial, politik, pendidikan, dan pergumulan intelektual Islam.

Kawasan pesisir tersebut telah melahirkan banyak ulama, pendidik, dan tokoh besar. Tradisi keilmuan tidak tumbuh hanya di dalam ruang-ruang pendidikan formal, tetapi juga melalui pesantren, masjid, organisasi sosial, aktivitas perdagangan, dan hubungan masyarakat pesisir dengan dunia luar.

Masyarakat pesisir terbiasa berhadapan dengan perubahan. Perdagangan mempertemukan mereka dengan manusia dari berbagai daerah, bahasa, dan kebudayaan. Keadaan itu membentuk keterbukaan, kemampuan beradaptasi, serta keberanian melihat kehidupan melampaui batas kampung halaman.

Lingkungan semacam itu menjadi salah satu fondasi pembentukan pemikiran Syaykh Al-Zaytun. Ia tumbuh dalam masyarakat yang religius, tetapi juga terbuka terhadap perjumpaan. Ia mengenal tradisi pesantren, namun tidak terputus dari kehidupan sosial, ekonomi, dan kebangsaan.

Untuk memperlihatkan kekuatan tradisi intelektual Gresik, Amich menyebut sejumlah tokoh penting. Salah satunya adalah Kiai Fakih Maskumambang, ulama terkemuka Nahdlatul Ulama yang pernah menjadi Wakil Rais Akbar mendampingi K.H. Hasyim Asy’ari.

Ia juga menyebut Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Suminto, seorang akademisi dan penulis sejarah politik Islam di Hindia Belanda. Karya-karyanya dinilai memiliki mutu akademik tinggi dan menjadi rujukan penting dalam memahami hubungan antara Islam, politik, dan pemerintahan pada masa kolonial.

Penyebutan para tokoh tersebut menunjukkan bahwa Gresik mempunyai ekosistem intelektual yang kuat. Di daerah itu tumbuh tradisi membaca, berdiskusi, mengajar, menulis, dan terlibat dalam persoalan masyarakat.

Menurut Amich, tradisi intelektual Gresik menjadi salah satu fondasi yang memungkinkan lahirnya kreativitas besar Al-Zaytun. Lingkungan kelahiran tidak sepenuhnya menentukan perjalanan seseorang, tetapi nilai, kebiasaan, dan tradisi yang tumbuh di dalamnya dapat membentuk orientasi pemikiran.

Dari tanah pesisir itulah tumbuh seorang pembelajar yang kemudian mengembangkan lembaga pendidikan di Indramayu. Jarak geografis antara Gresik dan Al-Zaytun tidak memutus hubungan intelektual di antara keduanya. Nilai-nilai yang tumbuh sejak masa awal tetap hadir dalam bentuk baru, menyesuaikan kebutuhan zaman.

Puncak Kreativitas, Inovasi, dan Imajinasi

Dalam pandangan Amich, Al-Zaytun merupakan puncak kreativitas, puncak inovasi, dan puncak imajinasi. Pernyataan tersebut tidak hanya merujuk kepada luasnya kawasan atau megahnya bangunan.

Kreativitas terlihat dari kemampuan menghadirkan gagasan baru. Inovasi tampak dalam keberanian mengembangkan sistem pendidikan dan kehidupan yang tidak selalu mengikuti pola umum. Adapun imajinasi tercermin dalam kemampuan membayangkan sesuatu yang belum ada, kemudian mengubahnya menjadi karya nyata.

Al-Zaytun, menurutnya, selalu mengembangkan gagasan yang melampaui cakrawala pemikiran biasa. Ia menyebutnya dengan ungkapan it goes beyond the horizon. Cara berpikir yang dikembangkan tidak berhenti pada apa yang tampak hari ini, tetapi mencoba membaca kebutuhan masa depan.

Pendidikan visioner membutuhkan keberanian membayangkan masa yang belum datang. Seorang pendidik tidak cukup hanya menyiapkan peserta didik untuk menghadapi ujian semester. Pendidikan harus mempersiapkan mereka menghadapi perubahan sosial, teknologi, ekonomi, dan kebudayaan yang mungkin belum sepenuhnya dapat diprediksi.

Imajinasi dalam pendidikan bukan angan-angan yang terputus dari kenyataan. Imajinasi harus diikuti pengetahuan, perencanaan, disiplin, dan kemampuan melaksanakan gagasan. Tanpa pelaksanaan, gagasan hanya akan tinggal sebagai wacana.

Sebaliknya, pelaksanaan tanpa imajinasi dapat membuat sebuah lembaga hanya mengulangi kebiasaan lama. Ia mungkin berjalan teratur, tetapi kehilangan kemampuan menghadapi perubahan.

Al-Zaytun dipandang Amich sebagai pertemuan antara imajinasi dan pelaksanaan. Gagasan pendidikan diwujudkan dalam sistem kehidupan, bangunan, kegiatan pembelajaran, pertanian, teknologi, serta pembentukan karakter peserta didik.

Jejak Pembaruan Pendidikan dari Sumatera Barat

Akar intelektual yang membentuk Al-Zaytun, menurut Amich, tidak hanya berasal dari Gresik. Ia juga melihat adanya hubungan dengan tradisi pembaruan pendidikan Islam di Sumatera Barat.

Sumatera Barat dikenal sebagai salah satu pusat penting pembaruan pemikiran dan pendidikan Islam di Indonesia. Dari wilayah ini lahir berbagai lembaga, ulama, dan gerakan yang berusaha mempertemukan tradisi keislaman dengan tuntutan modernitas.

Salah satu lembaga yang disebut Amich adalah Madrasah Thawalib. Lembaga tersebut memiliki posisi penting dalam sejarah modernisasi pendidikan Islam. Pendidikan tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu-ilmu tradisional, tetapi juga pada pengembangan cara berpikir, pengorganisasian pembelajaran, dan kesiapan menghadapi perubahan masyarakat.

Amich menghubungkan tradisi Madrasah Thawalib dengan perjalanan K.H. Imam Zarkasyi sebelum mendirikan Pondok Modern Gontor. Menurutnya, modernisasi pendidikan Islam yang kemudian berkembang di Gontor mempunyai keterkaitan dengan tradisi pembaruan pendidikan di Sumatera Barat.

Hubungan gagasan tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan lembaga pendidikan tidak pernah terjadi dalam ruang kosong. Satu lembaga dapat belajar dari pengalaman lembaga sebelumnya, kemudian mengembangkan model baru sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya.

Gontor menyerap inspirasi dari tradisi pembaruan, lalu membangun sistem pendidikan modern yang memiliki karakter tersendiri. Syaykh Panji Gumilang kemudian memperoleh pendidikan di Gontor dan membawa pengalaman tersebut ke dalam perjalanan intelektualnya.

Dengan demikian, terdapat mata rantai gagasan yang menghubungkan Sumatera Barat, Gontor, Gresik, dan Al-Zaytun. Setiap mata rantai tidak sekadar menyalin bentuk sebelumnya, tetapi melakukan penyesuaian dan pengembangan.

Pendidikan yang hidup memang tidak dibangun melalui peniruan mutlak. Sebuah generasi menerima warisan, mempelajarinya, lalu mengembangkannya agar mampu menjawab tantangan baru.

Pendidikan Perempuan dan Keberanian Menjawab Zaman

Amich juga menyinggung perkembangan pendidikan bagi santri perempuan di Sumatera Barat melalui Madrasah Diniyah Putri. Lembaga tersebut menunjukkan bahwa gagasan memberikan akses pendidikan yang kuat kepada perempuan telah berkembang dalam tradisi pembaruan pendidikan Islam.

Pendidikan perempuan memiliki posisi sangat penting karena perempuan tidak hanya menjadi peserta dalam kehidupan sosial, tetapi juga memiliki peran besar dalam keluarga, masyarakat, pendidikan, dan pembangunan bangsa.

Ketika perempuan memperoleh pendidikan yang baik, manfaatnya tidak berhenti pada dirinya sendiri. Pengetahuan dan nilai yang dimilikinya akan memengaruhi keluarga, anak-anak, lingkungan sosial, dan generasi berikutnya.

Inspirasi mengenai pendidikan perempuan tersebut kemudian ikut membentuk cara berpikir para tokoh pendidikan Islam modern, termasuk Syaykh Al-Zaytun. Al-Zaytun memberikan ruang pendidikan kepada santri putra dan putri dalam satu kawasan pendidikan.

Kebijakan tersebut memperlihatkan keberanian menjawab kebutuhan zaman. Tradisi tetap dihormati, tetapi pelaksanaannya dikembangkan berdasarkan tantangan dan kondisi masyarakat yang terus berubah.

Pembaruan pendidikan bukan berarti menghapus seluruh warisan lama. Pembaruan berarti memahami prinsip dasar, lalu menemukan bentuk pelaksanaan yang paling relevan.

Santri sebagai Generasi Penerus Pemikiran

Menurut Amich, keberhasilan pendidikan yang dibangun Syaykh Al-Zaytun tidak hanya terlihat dari gedung-gedung megah. Ukuran terpentingnya terletak pada manusia dan pemikiran yang lahir dari lembaga tersebut.

Bangunan dapat menjadi sarana penting bagi pendidikan. Ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, asrama, dan berbagai fasilitas diperlukan untuk mendukung pembelajaran. Namun, seluruh sarana itu hanya memperoleh makna apabila mampu membentuk manusia.

Karena itu, produk utama lembaga pendidikan bukanlah gedung, melainkan generasi. Gedung dapat menjadi simbol pencapaian, tetapi masa depan sebuah lembaga ditentukan oleh kualitas lulusan dan pemikiran yang mereka hasilkan.

Amich berharap pemikiran-pemikiran besar yang telah ditanamkan dapat diteruskan oleh para santri Al-Zaytun. Para santri tidak boleh hanya menjadi penikmat hasil pembangunan generasi sebelumnya. Mereka harus menjadi penerus, pengembang, dan pencipta gagasan baru.

Di hadapan para santri, Amich menyampaikan bahwa mereka merupakan generasi yang beruntung. Mereka memperoleh kesempatan belajar di Al-Zaytun, sebuah lingkungan yang digambarkannya sebagai kawah candradimuka.

Dalam tradisi kebudayaan Indonesia, kawah candradimuka merupakan simbol tempat pembentukan manusia. Di sana seseorang ditempa melalui pendidikan, latihan, disiplin, pengalaman, dan berbagai tantangan agar kelak menjadi pribadi yang kuat.

Al-Zaytun menjadi kawah candradimuka karena santri tidak hanya menerima pengetahuan. Mereka dipersiapkan agar memiliki kompetensi, keterampilan, keahlian, kedisiplinan, dan orientasi pengabdian.

Setiap santri memiliki minat dan bidang yang berbeda. Karena itu, pendidikan harus memberikan kesempatan agar mereka menemukan serta mengembangkan potensi masing-masing.

Namun, keahlian saja tidak cukup. Seorang ahli membutuhkan karakter, integritas, dan kesadaran kebangsaan agar ilmunya digunakan untuk kemaslahatan.

Pendidikan yang hanya menghasilkan manusia pintar, tetapi tidak memiliki tanggung jawab moral, dapat menimbulkan persoalan. Sebaliknya, niat baik tanpa kompetensi juga tidak cukup untuk menyelesaikan tantangan yang semakin kompleks.

Karena itu, kawah candradimuka pendidikan harus mempertemukan ilmu, keterampilan, karakter, dan tanggung jawab sosial.

Syaykh Al-Zaytun sebagai Pembelajar Sejati

Salah satu bagian penting dalam refleksi Amich adalah kesaksiannya mengenai semangat belajar Syaykh Al-Zaytun. Pada usia yang memasuki delapan puluh tahun, Syaykh tetap menunjukkan diri sebagai pembelajar sejati.

Ia tidak hanya menempuh pendidikan doktoral, tetapi juga terus membaca dan memperkaya wawasan. Usia tidak dijadikannya alasan untuk berhenti belajar.

Hal tersebut memberikan pesan kuat kepada para guru dan pendidik. Seseorang tidak dapat terus mengajar dengan baik apabila berhenti belajar. Pengetahuan berkembang, masyarakat berubah, dan generasi peserta didik menghadapi tantangan yang berbeda.

Guru yang berhenti membaca akan semakin jauh dari perkembangan ilmu. Pendidik yang berhenti berpikir akan cenderung mengulang materi tanpa mampu menghubungkannya dengan kebutuhan zaman.

Sebaliknya, pembelajar sejati memahami bahwa pendidikan tidak berakhir pada penerimaan ijazah. Gelar akademik merupakan penanda suatu tahap, bukan akhir perjalanan intelektual.

Amich mengungkapkan bahwa Syaykh membaca sejarah peradaban Islam, filsafat modern Barat, dan berbagai karya klasik Islam. Ruang bacanya tidak dibatasi pada satu tradisi keilmuan.

Ia membaca pemikir seperti Albert Camus, Francis Bacon, René Descartes, dan tokoh-tokoh besar lainnya. Dari karya mereka dapat dipelajari pentingnya penalaran, rasionalitas, keraguan metodis, pengalaman empiris, kebebasan berpikir, serta pergulatan manusia mencari makna.

Namun, pemikiran Barat tersebut tidak diterima secara terpisah dari tradisi Islam. Syaykh memadukannya dengan khazanah keilmuan Islam yang telah dipelajari sepanjang perjalanan kehidupannya.

Pertemuan berbagai tradisi ilmu menghasilkan cara berpikir yang lebih luas. Seseorang tidak kehilangan identitas ketika membaca pemikiran dari luar tradisinya. Ia justru dapat memperkaya cara memahami keyakinan dan realitas.

Keterbukaan intelektual bukan berarti menerima seluruh pandangan tanpa kritik. Membaca berarti memasuki dialog. Gagasan dipahami, dibandingkan, diuji, dan ditempatkan dalam kerangka nilai yang diyakini.

Dari proses tersebut lahir pemikiran yang tidak tertutup. Tradisi keislaman dapat berdialog dengan filsafat modern, ilmu sosial, sains, teknologi, dan berbagai perkembangan peradaban.

Tidak Pernah Berhenti Membaca dan Berpikir

Amich menegaskan bahwa seorang pembelajar sejati tidak pernah berhenti membaca, tidak pernah berhenti berpikir, dan tidak pernah berhenti memperkaya diri.

Membaca membuka jendela pengetahuan. Melalui membaca, seseorang dapat berdialog dengan manusia dari masa dan tempat yang berbeda. Ia dapat memahami pengalaman bangsa lain, pemikiran para filsuf, perjalanan peradaban, dan berbagai temuan ilmu pengetahuan.

Namun, membaca harus diikuti kemampuan berpikir. Tidak semua yang dibaca harus diterima. Pengetahuan perlu diuji melalui penalaran, pengalaman, nilai, dan relevansinya bagi kehidupan.

Memperkaya diri bukan hanya menambah jumlah informasi. Kekayaan intelektual lahir ketika informasi diolah menjadi pemahaman, pemahaman berkembang menjadi kebijaksanaan, dan kebijaksanaan diwujudkan dalam tindakan.

Pesan ini sangat relevan bagi para guru. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan buku teks. Mereka perlu memahami konteks, membaca perkembangan peserta didik, dan menjembatani ilmu dengan kehidupan.

Guru yang terus belajar akan membawa suasana hidup ke dalam ruang pembelajaran. Ia tidak hanya menyampaikan jawaban, tetapi juga menumbuhkan pertanyaan. Ia tidak sekadar meminta peserta didik menghafal, tetapi mengajak mereka berpikir.

Syaykh Al-Zaytun, dalam pembacaan Amich, memberikan teladan bahwa belajar dapat dilakukan sepanjang hayat. Usia lanjut bukan masa untuk menghentikan pengembangan pikiran, melainkan kesempatan untuk memperdalam dan membagikan pengalaman.

Memaknai Tahapan Usia

Setelah berbicara mengenai tradisi intelektual dan semangat belajar, Amich mengajak hadirin merenungkan makna pertambahan usia.

Setiap manusia patut bersyukur ketika Allah memberikan tambahan umur. Namun, rasa syukur harus disertai kesadaran bahwa setiap tahap usia membawa tanggung jawab dan maknanya sendiri.

Amich mengutip penjelasan dari salah satu kitab karya Syekh Abdullah Sirajuddin Al-Husayni mengenai berbagai keutamaan berdasarkan tahapan usia manusia.

Dalam keterangan yang disampaikannya, ketika seseorang mencapai usia empat puluh tahun, Allah memberikan perlindungan dari berbagai musibah. Pada usia lima puluh tahun, Allah memudahkan hisabnya. Ketika mencapai usia enam puluh tahun, seseorang dibimbing menuju pertobatan dan ketaatan.

Pada usia tujuh puluh tahun, seseorang dicintai oleh para malaikat. Lalu, ketika mencapai usia delapan puluh tahun, berbagai amal kebajikan yang telah dilakukan sepanjang kehidupan diterima oleh Allah.

Amich menyampaikan penjelasan tersebut sebagai doa dan pengharapan bagi Syaykh Al-Zaytun. Usia ke-80 menjadi momentum untuk mensyukuri amal, karya, dan pengabdian yang telah dilakukan.

Ia bersama seluruh hadirin bermunajat agar Syaykh senantiasa diberikan kesehatan dan umur panjang. Bahkan, apabila Allah menghendaki, ia berharap Syaykh dapat mencapai usia sembilan puluh tahun atau lebih.

Dalam riwayat yang dikutipnya, seseorang yang mencapai usia sembilan puluh tahun memperoleh ampunan atas dosa-dosanya dan diberikan kemuliaan untuk memberikan syafaat bagi keluarganya.

Penjelasan tersebut tidak dimaksudkan untuk mengajak manusia hanya mengejar panjang usia. Umur tetap merupakan ketetapan Tuhan. Yang dapat dilakukan manusia adalah mengisi usia dengan amal, ilmu, pengabdian, dan manfaat.

Doa untuk Generasi Baru Indonesia

Menjelang akhir sambutannya, Amich tidak hanya mendoakan Syaykh Al-Zaytun. Ia mengajak seluruh hadirin memanjatkan doa bagi lahirnya generasi baru Indonesia.

Generasi baru tersebut diharapkan mampu mewarisi cita-cita perjuangan para pendiri bangsa, intelektual, pemikir, ulama, dan pelopor gerakan kebangsaan.

Mewarisi perjuangan tidak berarti mengulang seluruh tindakan tokoh masa lalu. Setiap zaman mempunyai persoalan berbeda. Namun, nilai dasar berupa keberanian, kejujuran, kecintaan kepada ilmu, dan pengabdian kepada bangsa harus tetap dijaga.

Amich berdoa agar generasi Indonesia dapat meneladani Bung Karno dalam keyakinannya mengenai pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemandirian bangsa.

Bung Karno memahami bahwa kemerdekaan politik tidak akan sempurna tanpa kemampuan menguasai ilmu dan teknologi. Bangsa yang tidak menguasai pengetahuan akan mudah bergantung kepada bangsa lain.

Kemerdekaan harus diwujudkan dalam kemampuan memproduksi, mengelola sumber daya, membangun industri, dan menyelesaikan persoalan berdasarkan kekuatan sendiri.

Amich juga mengajak generasi baru meneladani Mohammad Hatta dalam perjuangannya agar kekayaan alam dikelola bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Sumber daya alam tidak boleh hanya memberikan keuntungan kepada kelompok terbatas. Pengelolaannya harus diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan, mengurangi ketimpangan, dan memperkuat kehidupan masyarakat.

Kemandirian ilmu dan keadilan ekonomi merupakan dua unsur yang saling melengkapi. Penguasaan teknologi tanpa orientasi keadilan dapat memperbesar kesenjangan. Sebaliknya, cita-cita keadilan tanpa kemampuan ilmu dan produksi akan sulit diwujudkan.

Persaudaraan di Tengah Perbedaan

Dalam doanya, Amich menyebut sejumlah tokoh bangsa dari berbagai latar belakang, antara lain Sutan Sjahrir, Haji Agus Salim, Ki Bagus Hadikusumo, Mohammad Natsir, Ignatius Kasimo, Johannes Leimena, K.H. Hasyim Asy’ari, dan K.H. Ahmad Dahlan.

Mereka memiliki latar belakang keyakinan, organisasi, pemikiran, dan jalan perjuangan yang tidak selalu sama. Namun, perbedaan tersebut tidak menghalangi mereka memberikan pengabdian kepada Indonesia.

Para tokoh itu memperlihatkan bahwa bangsa tidak harus dibangun melalui keseragaman. Indonesia tumbuh dari kemampuan manusia yang berbeda untuk menemukan tujuan bersama.

Perbedaan pemikiran dapat menjadi kekayaan apabila dikelola melalui dialog, penghormatan, dan kesediaan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok.

Amich mengajak hadirin mengambil pelajaran dari ketulusan, keluhuran budi, dedikasi, dan semangat kebangsaan para tokoh tersebut.

Ketulusan membuat pengabdian tidak hanya diarahkan untuk memperoleh pujian. Keluhuran budi menjaga perjuangan agar tidak kehilangan kemanusiaan. Dedikasi memungkinkan seseorang bertahan dalam proses panjang. Adapun semangat kebangsaan menyatukan berbagai latar belakang dalam satu cita-cita.

Toleransi dalam perspektif ini bukan sekadar membiarkan orang lain ada. Toleransi merupakan kesediaan bekerja bersama meskipun terdapat perbedaan.

Para pendiri bangsa tidak selalu memiliki pandangan serupa mengenai seluruh persoalan. Namun, mereka mampu membangun persaudaraan dan bekerja untuk kemerdekaan serta masa depan Indonesia.

Al-Zaytun sebagai Taman Ilmu

Pada akhir refleksinya, Amich menyampaikan harapan agar Al-Zaytun terus menjadi taman ilmu.

Taman merupakan tempat tumbuhnya kehidupan. Di dalam taman terdapat keragaman, perawatan, proses, dan kesabaran. Benih tidak tumbuh menjadi pohon besar dalam satu malam.

Demikian pula ilmu. Ia membutuhkan lingkungan yang memungkinkan manusia membaca, bertanya, berdiskusi, meneliti, dan menguji gagasan.

Taman ilmu tidak hanya mengumpulkan buku dan menyelenggarakan kelas. Ia membentuk kebiasaan intelektual. Manusia di dalamnya didorong untuk mencintai pengetahuan dan terus mengembangkan diri.

Al-Zaytun diharapkan menjadi tempat lahirnya pemikiran yang mampu melampaui cakrawala biasa. Para santrinya tidak hanya menguasai pelajaran, tetapi juga memiliki kemampuan menghubungkan ilmu dengan kebutuhan bangsa.

Taman Toleransi

Amich juga mendoakan agar Al-Zaytun terus menjadi taman toleransi.

Toleransi tidak lahir hanya melalui ceramah. Ia perlu dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari: dalam cara berbicara, menyikapi perbedaan, memperlakukan tamu, dan membangun hubungan dengan masyarakat.

Taman toleransi adalah tempat setiap manusia dapat tumbuh tanpa harus merendahkan manusia lainnya. Keyakinan dijaga dengan kokoh, tetapi kehormatan orang lain tetap dihormati.

Indonesia membutuhkan ruang pendidikan yang mampu membentuk manusia semacam itu. Kemajemukan bangsa dapat menjadi kekuatan apabila generasi muda memiliki kemampuan hidup bersama.

Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi sumber konflik apabila manusia dibentuk melalui kebencian dan ketakutan terhadap pihak lain.

Karena itu, pendidikan toleransi merupakan bagian penting dari pendidikan kebangsaan. Santri perlu memahami agamanya secara mendalam sekaligus memiliki keluasan hati untuk hidup di tengah masyarakat yang majemuk.

Taman Peradaban

Harapan terakhir yang disampaikan Amich adalah agar Al-Zaytun terus menjadi taman peradaban yang memberikan manfaat bagi Indonesia dan dunia.

Peradaban merupakan hasil pertemuan antara ilmu, moral, teknologi, kebudayaan, ekonomi, dan tata kehidupan sosial. Sebuah masyarakat tidak disebut maju hanya karena memiliki bangunan tinggi dan teknologi canggih.

Kemajuan harus terlihat dari kualitas manusia, kemampuan menghormati kehidupan, keadilan, dan keberlanjutan.

Taman peradaban berarti ruang tempat manusia tidak hanya disiapkan untuk mencari pekerjaan, tetapi juga untuk memberikan arah kepada kehidupan. Pendidikan membentuk mereka menjadi pencipta, pemimpin, pemikir, dan pelayan masyarakat.

Dalam taman peradaban, ilmu tidak digunakan untuk merusak. Teknologi tidak diarahkan untuk menindas. Kekayaan tidak hanya dikumpulkan bagi kepentingan pribadi. Seluruh kemampuan manusia diorientasikan untuk menciptakan kehidupan yang lebih bermartabat.

Melampaui Bangunan, Melahirkan Generasi

Refleksi Dr. Amich Al Humami dalam Peringatan Hari Lahir Ke-80 Syaykh Al-Zaytun memperlihatkan bahwa pencapaian lembaga pendidikan tidak boleh hanya diukur dari apa yang tampak secara fisik.

Bangunan memang penting. Fasilitas diperlukan. Sistem dan kelembagaan harus dibangun. Namun, seluruhnya merupakan sarana untuk tujuan yang lebih besar, yaitu melahirkan manusia berilmu, terampil, toleran, dan mampu memberikan manfaat.

Al-Zaytun dinilainya sebagai puncak kreativitas, inovasi, dan imajinasi karena mampu mengubah gagasan menjadi ekosistem pendidikan. Namun, keberlanjutan karya itu berada di tangan para santri dan generasi penerus.

Mereka harus menjaga tradisi belajar yang dicontohkan Syaykh Al-Zaytun. Membaca tidak boleh berhenti setelah lulus. Berpikir tidak boleh berhenti setelah menemukan jawaban. Pendidikan tidak boleh berhenti setelah memperoleh gelar.

Seorang pembelajar sejati terus memperkaya dirinya karena menyadari bahwa ilmu jauh lebih luas daripada usia manusia.

Dari Gresik, Sumatera Barat, Gontor, hingga Al-Zaytun, Amich membaca adanya mata rantai pembaruan pendidikan. Setiap generasi menerima inspirasi, kemudian mengembangkannya sesuai dengan tantangan zaman.

Pada usia ke-80, Syaykh Al-Zaytun dipandang tetap berdiri dalam mata rantai tersebut sebagai pembelajar, pendidik, dan pembangun gagasan.

Peringatan Milad kemudian menjadi momentum untuk mensyukuri perjalanan sekaligus meneguhkan tanggung jawab. Pencapaian tidak boleh hanya dikagumi. Ia harus diteruskan, dikembangkan, dan diperluas manfaatnya.

Doa Amich pada akhirnya bukan hanya untuk panjang usia Syaykh Al-Zaytun. Doa tersebut juga ditujukan bagi lahirnya generasi Indonesia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, mengelola kekayaan alam bagi kemakmuran rakyat, menghargai perbedaan, serta mampu bekerja bersama demi bangsa.

Generasi itulah yang diharapkan tumbuh dari taman ilmu, taman toleransi, dan taman peradaban bernama Al-Zaytun: sebuah tempat di mana kreativitas, inovasi, dan imajinasi tidak berhenti sebagai wacana, tetapi diwujudkan menjadi pendidikan dan pengabdian bagi Indonesia serta dunia. (***)

Penulis: Ali Aminulloh
WWW.MDI.NEWS