width=
width=

Dr. Risman Pasaribu: Dari Perantauan hingga Pengabdian

Mdi.News JAKARTA Perjalanan hidup Dr. Risman Pasaribu, S.E., M.M., merupakan gambaran tentang pentingnya pendidikan, kerja keras, pengalaman organisasi, serta pengabdian kepada masyarakat dan negara.

Lahir di Sorkam, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada 22 Mei 1959, Risman Pasaribu sejak usia muda telah ditempa oleh kehidupan perantauan. Setelah menyelesaikan pendidikan SMP, ia meninggalkan kampung halaman dan merantau ke Malang, Jawa Timur, untuk melanjutkan pendidikan di SMA Islam Malang.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Risman melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Merdeka Malang (UNMER). Ia tercatat lulus pada 1986. Pada masa kuliahnya, Risman juga dikenal sebagai salah satu pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di lingkungan UNMER Malang.

Dari Jurnalis hingga Birokrat

Selepas menyelesaikan pendidikan di Malang, Risman kemudian hijrah ke Jakarta. Perjalanan profesionalnya dimulai dari dunia jurnalistik. Ia pernah bekerja sebagai jurnalis di Harian Pelita, media yang pada masa itu dipimpin oleh Akbar Tanjung.

Pengalaman sebagai jurnalis menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Dunia jurnalistik mempertemukannya dengan berbagai persoalan sosial, politik dan pemerintahan. Tidak lama kemudian, Risman memasuki dunia birokrasi setelah dinyatakan lulus sebagai aparatur negara dan mengabdi di Kementerian Dalam Negeri.

Di lingkungan Kemendagri, perjalanan kariernya berkembang hingga dipercaya menduduki sejumlah posisi strategis, antara lain sebagai Kepala Subdirektorat Fasilitasi Pendidikan Politik serta Kepala Subdirektorat Kapasitas pada Direktorat Penanganan Konflik Kesbangpol Kemendagri. Ia juga pernah dipercaya sebagai Pelaksana Tugas Direktur Penanganan Konflik Kesbangpol Kemendagri.

Pendidikan Tidak Berhenti Setelah Menjadi Birokrat

Salah satu hal yang menarik dari perjalanan Risman adalah komitmennya terhadap pendidikan. Di tengah kesibukannya sebagai aparatur negara, ia tetap melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Risman menempuh pendidikan Magister Manajemen di Universitas Krisnadwipayana. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan doktoral di bidang ilmu lingkungan melalui pendidikan di Universitas Indonesia dan Universitas Brawijaya, dan dikenal sebagai doktor di bidang ilmu lingkungan.

Perjalanan akademik tersebut menunjukkan bahwa pendidikan baginya bukan sekadar gelar, melainkan bagian dari proses memperluas wawasan dan meningkatkan kemampuan untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat.

Aktif di KAHMI dan Organisasi Alumni

Selain perjalanan birokrasi dan akademik, Risman juga aktif dalam organisasi kemasyarakatan dan alumni.

Ia tercatat mengabdi di Majelis Nasional KAHMI selama tiga periode berturut-turut sejak 2009 hingga 2022. Pada periode terakhir, ia dipercaya sebagai Wakil Sekretaris Jenderal. Ia juga pernah aktif di Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI), termasuk dalam bidang yang berkaitan dengan otonomi daerah dan pemerintahan.

Pada Munas KAHMI XI tahun 2022, Risman menjadi salah satu kandidat Presidium Majelis Nasional KAHMI. Dalam pemberitaan saat itu, Akbar Tanjung menyebut pengalaman, dedikasi, loyalitas, serta pendidikan Risman sebagai sejumlah faktor yang membuatnya layak mendapatkan peran penting di KAHMI.

Risman juga pernah mendapatkan penghargaan Satyalancana Karya Satya dari Presiden Joko Widodo sebagai bagian dari pengabdiannya sebagai aparatur negara.

Pemikiran untuk Bangsa

Jika melihat perjalanan hidupnya, ada satu benang merah yang cukup kuat, yaitu keinginan untuk menjadikan ilmu dan pengalaman sebagai bentuk pengabdian.

Dalam gagasannya mengenai KAHMI, Risman pernah menekankan pentingnya organisasi alumni untuk memberikan kontribusi nyata bagi umat, bangsa dan negara. Ia juga mendorong penguatan pendidikan, kesehatan, ekonomi, kajian keislaman, serta keterlibatan kaum intelektual dalam memberikan gagasan terhadap kebijakan publik.

Menurut pandangan saya, pengalaman Risman dari dunia jurnalistik, birokrasi, akademik dan organisasi merupakan kombinasi yang menarik. Jurnalistik memberikan perspektif tentang realitas masyarakat, birokrasi memberikan pengalaman memahami tata kelola pemerintahan, sementara pendidikan akademik memberikan kerangka berpikir ilmiah.

Karena itu, sosok seperti Risman Pasaribu dapat ditempatkan bukan hanya sebagai mantan birokrat, tetapi juga sebagai intelektual yang memiliki pengalaman langsung dalam melihat persoalan masyarakat dan pemerintahan dari berbagai Sisi

Perjalanan Dr. Risman Pasaribu menunjukkan bahwa keberhasilan tidak selalu datang melalui jalan yang mudah. Berangkat dari Sorkam, merantau ke Malang sejak usia muda, menempuh pendidikan tinggi, memasuki dunia jurnalistik, kemudian mengabdi sebagai birokrat dan terus melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktoral, merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan ketekunan.

Pada akhirnya, pendidikan, pengalaman dan jabatan akan memiliki nilai lebih apabila digunakan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.

Bagi generasi muda, perjalanan Risman Pasaribu dapat menjadi sebuah pelajaran bahwa merantau bukan berarti meninggalkan akar, pendidikan bukan sekadar mengejar gelar, dan jabatan bukan sekadar kekuasaan ketiganya dapat menjadi bekal untuk mengabdi kepada bangsa dan negara.

WWW.MDI.NEWS