width=
width=

Mensyukuri Pasangan Belajar Mencintai karena Allah, Bukan Semata karena Kesempurnaan

Ilustrasi

MDI.NEWS – Di zaman ketika banyak orang mengukur kebahagiaan rumah tangga dari harta, perhatian, atau kesempurnaan pasangan, Islam mengajarkan sesuatu yang lebih mendalam: mencintai dan mensyukuri pasangan karena Allah SWT.

Setiap pernikahan adalah takdir yang Allah pilihkan. Tidak ada pasangan yang sempurna, sebagaimana tidak ada manusia yang luput dari kekurangan. Justru di balik setiap kekurangan itulah Allah menghadirkan kesempatan untuk belajar sabar, ikhlas, memaafkan, dan terus memperbaiki diri.

Allah SWT berfirman:

«”Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya. Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
(QS. Ar-Rum: 21)»

Ayat ini mengingatkan bahwa tujuan pernikahan adalah menghadirkan ketenangan (sakinah), kasih sayang (mawaddah), dan cinta penuh rahmat (rahmah). Ketenangan itu tidak selalu hadir karena pasangan tidak pernah berbuat salah, tetapi karena suami dan istri sama-sama berusaha mendekat kepada Allah.

Rasulullah SAW juga bersabda:

«”Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah (istrinya). Jika ia tidak menyukai salah satu perangainya, maka ia akan ridha terhadap perangainya yang lain.”
(HR. Muslim No. 1469)»

Hadis ini mengajarkan agar seseorang tidak hanya melihat kekurangan pasangannya. Setiap manusia memiliki kelebihan yang patut disyukuri dan dihargai.

Bersyukur atas pasangan bukan berarti membenarkan setiap kesalahan atau mengabaikan kezaliman. Bersyukur berarti menerima bahwa Allah memiliki hikmah dalam setiap ketetapan-Nya, sambil tetap berusaha membangun rumah tangga yang sehat, saling menghormati, dan saling menasihati dalam kebaikan.

Wanita yang menjadikan Allah sebagai tujuan utama akan menyadari bahwa kebahagiaan sejati tidak sepenuhnya bergantung pada sikap pasangan. Hatinya akan lebih tenang karena sandarannya adalah Allah SWT. Ketika pasangan berbuat baik, ia bersyukur. Ketika diuji, ia bersabar dan memohon petunjuk kepada Allah untuk mengambil langkah yang benar.

Allah SWT juga berfirman:

«”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)»

Syukur dalam rumah tangga dapat diwujudkan dengan menghargai setiap kebaikan pasangan, mendoakannya, menjaga lisan dari ucapan yang menyakitkan, serta terus memperbaiki diri agar menjadi pasangan yang lebih baik.

Pada akhirnya, pernikahan bukanlah tentang mencari manusia yang sempurna, tetapi tentang dua insan yang sama-sama belajar menuju ridha Allah. Ketika cinta dibangun karena Allah, maka kesabaran akan lebih kuat, keikhlasan akan lebih luas, dan harapan akan selalu hidup meski berbagai ujian datang silih berganti.

Semoga setiap keluarga muslim mampu menjadi rumah yang dipenuhi sakinah, mawaddah, dan rahmah, serta menjadikan Allah SWT sebagai tujuan utama dalam setiap langkah kehidupan rumah tangga.

WWW.MDI.NEWS