MDINEWS, Kota Bekasi Gerakan “Bayar Hutang Indonesia” yang diinisiasi AsMEN Peduli Bangsa mendapat dukungan dari kalangan akademisi. Dukungan tersebut disampaikan Prof. Dr. Risman Pasaribu, S.E., M.M. dalam wawancara di Studio AsMEN, Kota Bekasi, Selasa (14/7/2026).

Ia bahkan berpendapat bahwa apabila memungkinkan, Presiden dapat menjadi teladan dalam menunjukkan semangat kepedulian terhadap bangsa sebagai simbol penguatan budaya gotong royong dan tanggung jawab bersama.
“Kalau diperlukan, Presiden dapat menjadi contoh agar semangat kepedulian kepada bangsa semakin tumbuh. Nilai terpenting dari gerakan ini adalah pesan moralnya,” ujar Prof. Risman.
Menurut Prof. Risman, kondisi utang negara yang menjadi perhatian publik perlu disikapi dengan semangat kebangsaan. Ia mengatakan, selama ini masyarakat selalu dituntut untuk memenuhi kewajiban sebagai warga negara, seperti membayar pajak dan mematuhi peraturan. Karena itu, kepedulian masyarakat terhadap masa depan bangsa patut diapresiasi.
Ia menegaskan bahwa apabila masyarakat dari berbagai kalangan rela menyisihkan sebagian rezekinya sebagai bentuk kepedulian terhadap negara, maka penyelenggara negara juga memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga amanah yang diberikan rakyat.
“Kalau rakyat saja menunjukkan kepedulian terhadap kondisi negara, tentu para pejabat juga harus menunjukkan tanggung jawab yang sama dengan bekerja secara jujur, menjaga integritas, dan tidak melakukan korupsi,” katanya.
Menurutnya, praktik korupsi tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga menghambat pembangunan, mengurangi kualitas pelayanan publik, serta membebani generasi mendatang. Oleh karena itu, upaya pemberantasan korupsi tidak cukup hanya melalui penegakan hukum, tetapi juga harus dibangun melalui kesadaran moral seluruh elemen bangsa.
Prof. Risman menjelaskan bahwa gerakan yang digagas AsMEN Peduli Bangsa dapat menjadi simbol bahwa masyarakat masih memiliki kepedulian tinggi terhadap masa depan Indonesia. Nilai utama yang ingin dibangun adalah semangat gotong royong, rasa memiliki terhadap negara, serta budaya malu melakukan tindakan yang merugikan kepentingan publik.
Ia menambahkan bahwa besarnya dana yang mungkin terkumpul bukanlah ukuran utama keberhasilan program tersebut. Yang lebih penting adalah tumbuhnya kesadaran bahwa setiap warga negara memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjaga Indonesia sesuai kapasitas masing-masing.
Gerakan “Bayar Hutang Indonesia” yang digagas AsMEN Peduli Bangsa juga dimaksudkan sebagai media edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan keuangan negara yang sehat serta perlunya menjaga aset bangsa demi kesejahteraan bersama.
Dalam pandangan Prof. Risman, apabila semangat kepedulian tersebut dapat ditunjukkan oleh masyarakat, maka sudah sepatutnya para pejabat publik memberikan teladan melalui pemerintahan yang bersih, transparan, akuntabel, dan bebas dari praktik korupsi.
Ia berharap pesan moral tersebut dapat menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan bahwa jabatan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan sarana untuk memperoleh keuntungan pribadi.
Sementara itu, AsMEN Peduli Bangsa menjelaskan bahwa gerakan “Bayar Hutang Indonesia” tidak dimaksudkan sebagai pengganti kebijakan fiskal pemerintah ataupun solusi utama terhadap pembiayaan negara. Gerakan ini lebih diarahkan sebagai kampanye sosial untuk membangun kesadaran kebangsaan, memperkuat semangat gotong royong, serta mengajak seluruh elemen masyarakat menumbuhkan rasa memiliki terhadap Indonesia.
Melalui gerakan tersebut, AsMEN Peduli Bangsa berharap tumbuh kesadaran bahwa apabila masyarakat dengan kemampuan ekonomi yang terbatas saja rela menunjukkan kepeduliannya terhadap bangsa, maka para penyelenggara negara diharapkan semakin berkomitmen menjaga kepercayaan publik dengan mengedepankan integritas dan menjauhi segala bentuk penyalahgunaan wewenang.
Program ini juga diharapkan menjadi ruang edukasi bahwa membangun Indonesia bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan merupakan tanggung jawab bersama seluruh warga negara sesuai dengan peran dan kemampuan masing-mas






