width=
width=

Kamala Harris Kecam Serangan Trump ke Iran, Desak Kongres Segera Bertindak

MDI.NEWS, Jakarta——Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat, Kamala Harris, mengecam keras tindakan Presiden Donald Trump yang melancarkan serangan terhadap Iran. Pernyataan itu disampaikan Harris saat berbicara di Detroit pada 28 Februari waktu setempat.

Kepada awak media AS, Harris menilai keputusan tersebut berpotensi menyeret Amerika Serikat ke dalam konflik bersenjata yang tidak diinginkan oleh rakyatnya. Ia menegaskan bahwa kebijakan tersebut dapat membahayakan keselamatan prajurit dan warga sipil Amerika.

Menurut Harris, langkah yang diambil Trump merupakan bentuk perang pilihan yang tidak memiliki dasar kuat dan berisiko tinggi. Ia menyampaikan bahwa keputusan tersebut telah menempatkan pasukan Amerika dalam situasi berbahaya tanpa persetujuan luas dari publik.

“Donald Trump telah menyeret kita ke dalam perang yang tidak diinginkan oleh rakyat Amerika,” ujar Harris dalam pernyataan terbukanya. Ia menambahkan bahwa tindakan tersebut bisa menyebabkan hilangnya nyawa secara sia-sia.

Harris juga menyatakan penolakannya secara tegas terhadap kebijakan tersebut. “Saya dengan tegas menentang perang pilihan ini, dan semua orang seharusnya juga menentangnya,” katanya.

Lebih lanjut, ia menilai keputusan presiden dilakukan secara sepihak dan tanpa pertimbangan matang. Harris menekankan bahwa langkah-langkah yang dinilainya acak itu harus segera dihentikan melalui mekanisme konstitusional.

Ia pun mendesak Kongres Amerika Serikat untuk mengambil tindakan cepat guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas. Menurutnya, lembaga legislatif memiliki kewenangan untuk mengawasi dan membatasi kebijakan militer presiden.

Menutup pernyataannya, Harris menegaskan bahwa rakyat Amerika tidak menginginkan putra-putri mereka terlibat dalam perang yang dianggapnya tidak sah. Ia kembali menekankan sikapnya yang konsisten dalam menolak keputusan tersebut dan menyerukan tanggung jawab bersama demi menjaga keselamatan bangsa.  (***)

 

Foto : BBC

Penulis: Rizki Trainar
WWW.MDI.NEWS