MDI.NEWS |Bekasi – Rasa kantuk yang muncul setelah makan, atau dikenal dengan istilah food coma, merupakan fenomena umum yang dialami hampir semua orang. Kondisi ini ternyata memiliki penjelasan ilmiah yang berkaitan langsung dengan proses kerja tubuh setelah mencerna makanan.
Saat makanan masuk ke sistem pencernaan, tubuh mengalihkan aliran darah dalam jumlah lebih besar ke area lambung dan usus. Proses ini bertujuan membantu penyerapan nutrisi secara maksimal, namun berdampak pada berkurangnya suplai darah ke otak sehingga memicu rasa lelah dan kantuk.
Selain aliran darah, hormon juga berperan besar dalam munculnya rasa kantuk pasca makan. Konsumsi karbohidrat dan gula memicu lonjakan hormon insulin, yang kemudian meningkatkan produksi serotonin dan melatonin, dua hormon yang berkaitan erat dengan rasa rileks dan kantuk.
Jenis makanan yang dikonsumsi turut memengaruhi tingkat kantuk yang dirasakan. Makanan tinggi karbohidrat sederhana dan lemak, seperti nasi putih dalam porsi besar atau makanan berminyak, cenderung memicu kantuk lebih cepat dibandingkan makanan tinggi serat dan protein.
Ritme sirkadian tubuh juga menjadi faktor pendukung. Banyak orang secara alami mengalami penurunan energi pada siang hari, sekitar pukul satu hingga tiga sore, waktu yang sering bersamaan dengan jam makan siang, sehingga efek kantuk terasa lebih kuat.
Meski tergolong wajar, rasa kantuk berlebihan usai makan dapat diminimalkan dengan mengatur porsi makan tidak berlebihan, memperbanyak asupan serat dan protein, serta menghindari konsumsi gula berlebih dalam satu waktu makan.
Memahami mekanisme di balik rasa kantuk usai makan dapat membantu seseorang mengelola pola makan dengan lebih baik, terutama bagi mereka yang perlu tetap produktif dan fokus setelah jam makan siang.






