width=
width=

Bersolek Sepanjang Zaman, dari Ritual Kuno ke Industri Miliaran

Sumber / Dok.pngtree

MDI.NEWS |Bekasi – Kebiasaan bersolek bukan fenomena baru. Sejak ribuan tahun lalu, manusia telah menggunakan berbagai bahan alami untuk merawat dan mempercantik wajah, mulai dari bubuk kohl di Mesir Kuno hingga bedak beras di peradaban Asia.

Di Mesir Kuno sekitar 4000 SM, wanita dan pria menggunakan kohl berbahan galena untuk menghitamkan area sekitar mata, bukan hanya untuk estetika tetapi juga sebagai pelindung dari sengatan matahari gurun. Tradisi serupa berkembang di Tiongkok kuno dengan penggunaan bedak dari bubuk beras untuk mencerahkan kulit wajah.

Kini, ribuan tahun kemudian, kebiasaan bersolek berevolusi menjadi industri kecantikan global bernilai ratusan miliar dolar. Praktik ini tidak lagi mengenal batas usia maupun generasi, mulai dari remaja hingga lansia sama-sama menjadi konsumen aktif produk perawatan wajah dan kosmetik.

Media sosial turut mempercepat penyebaran tren kecantikan lintas usia. Konten skincare dan makeup tutorial di platform seperti TikTok dan Instagram tidak hanya diminati kalangan muda, tetapi juga menjangkau kelompok usia dewasa dan orang tua yang ingin tampil terawat.

Istilah “self-care” turut memperluas makna bersolek, dari sekadar rutinitas kecantikan menjadi bagian dari kesehatan mental dan kepercayaan diri. Produk seperti serum, sunscreen, dan pelembap kini dianggap kebutuhan harian oleh berbagai kalangan, bukan lagi kemewahan sesekali.

Meski tren berganti dari masa ke masa, dorongan untuk tampil rapi dan terawat tetap menjadi kebutuhan universal manusia. Perbedaannya kini terletak pada akses informasi yang membuat banyak orang lebih kritis memilih produk, mulai dari kandungan bahan aktif hingga dampak lingkungan kemasan yang digunakan.

Dari kohl Mesir Kuno hingga skincare modern, satu hal tetap sama: dorongan manusia untuk tampil dan merawat diri terus hidup lintas zaman dan generasi, hanya berganti wujud mengikuti perkembangan teknologi dan budaya.

WWW.MDI.NEWS