MDI.NEWS, BEKASI — Sosok KRA. Ki H. Gunarto Gunotalijendro, S.H., M.M., merupakan salah satu dalang Indonesia yang memiliki kiprah menarik dalam melestarikan dan mengembangkan seni pedalangan wayang kulit. Berbekal kecintaan terhadap budaya Jawa, ia tidak hanya aktif tampil di berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga membawa kesenian tradisional tersebut ke panggung internasional.
Lahir dan dibesarkan di Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 1962, kecintaan Ki Gunarto terhadap wayang tumbuh sejak usia dini. Bahkan, sejak duduk di bangku kelas IV sekolah dasar, ia sudah mulai belajar mendalang. Menariknya, di luar dunia pedalangan, ia juga memiliki latar belakang akademis di bidang hukum dan manajemen. Ia merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 1988.
Melansir dari Radio Republik Indonesia (RRI) dalam pemberitaan berjudul Profil Ki Gunarto Talijendro, Dalang Wayang Milenial, 14 Oktober 2025, Ki Gunarto dikenal sebagai seniman yang berupaya menghadirkan wajah baru seni wayang kulit tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisional. Melalui konsep Wayang Milenial Jakarta, ia memadukan pakem pedalangan dengan sentuhan musik kontemporer, penggunaan bahasa Indonesia dan Inggris, serta pendekatan yang lebih komunikatif agar dapat diterima generasi muda.
Kiprahnya tidak berhenti di panggung nasional. Sejak 2009, Ki Gunarto aktif memperkenalkan seni wayang kulit Indonesia ke berbagai negara, antara lain Hungaria, Jepang, Amerika Serikat, Australia, Italia, dan Vatikan. Pada Oktober 2024, ia juga tampil dalam forum World Food Forum yang diselenggarakan Food and Agriculture Organization (FAO) di Roma, Italia, dengan membawakan lakon Dewi Sri yang mengangkat pesan tentang ketahanan pangan dunia.
Prestasi internasionalnya berlanjut pada April 2026. Melansir dari RRI, 11 April 2026, Ki Gunarto tampil dalam rangkaian peringatan World Puppetry Day di Kanada, tepatnya di Simon Fraser University dan University of Victoria, bersama kelompok gamelan Gamelan Sari Laras. Ia membawakan lakon Pandawa Uniting Nations yang mengusung pesan persatuan dan harmoni antarbangsa. Kiprah tersebut juga dikonfirmasi melalui publikasi resmi School for the Contemporary Arts, Simon Fraser University.
Di dalam negeri, Ki Gunarto juga mencatatkan prestasi melalui penghargaan Rekor MURI pada 2024 atas pagelaran wayang kulit selama 15 hari tanpa jeda di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Pencapaian tersebut menjadi salah satu bukti dedikasinya terhadap seni pedalangan.
Melalui perjalanan panjang dan berbagai inovasi yang dilakukan, Ki Gunarto menunjukkan bahwa wayang kulit bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan kekayaan budaya yang dapat terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Kiprahnya menjadi inspirasi bahwa seni tradisional Indonesia mampu menembus batas negara sekaligus memperkenalkan identitas dan nilai-nilai luhur bangsa kepada masyarakat dunia.
Imam Setiadi






