width=
width=

HUT ke-80 Syaykh AS Panji Gumilang

Tokoh Nasional hingga Lintas Agama Berikan Apresiasi, Bahas Pendidikan dan Masa Depan Bangsa

MDINEWS, Indramayu, 30 Juli 2026 – Peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Syaykh AS Panji Gumilang yang digelar di lingkungan Kampus Pesantren Al-Zaytun, Indramayu, Kamis (30/7), menjadi ajang silaturahmi yang dihadiri berbagai kalangan tokoh nasional, akademisi, jurnalis, praktisi, hingga perwakilan lintas agama. Suasana berlangsung khidmat, hangat, dan penuh kekeluargaan, diisi dengan doa bersama, penyampaian apresiasi, serta diskusi mendalam seputar pendidikan, kepemimpinan, dan pembangunan sumber daya manusia bangsa.

Wartawan senior Drs. Robin Simanulang mengaku telah mengamati perkembangan Al-Zaytun selama lebih dari dua puluh tahun. Hasil pengamatan itu dituangkannya ke dalam sejumlah tulisan yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis maupun hukum. Dalam salah satu bukunya, Robin menggunakan istilah “supra nalar” untuk menggambarkan cara berpikir Syaykh AS Panji Gumilang yang melampaui pemikiran biasa. Ia juga mengenang pernah menyampaikan surat terbuka kepada Presiden Republik Indonesia saat Syaykh Panji Gumilang menghadapi persoalan hukum.

Sementara itu, Ilham Aidit mengaku memiliki kedekatan emosional tersendiri. Ayahnya lahir pada tanggal yang sama dengan Syaykh AS Panji Gumilang, yakni 30 Juli. “Di usia yang ke-80, beliau masih tampak sehat dan tetap aktif berkarya untuk masyarakat,” ucapnya penuh haru.

Ucapan selamat dan doa turut disampaikan Petrik Winata, juara dunia kickboxing sekaligus pegiat penggalangan dana bagi penderita kanker di Indonesia. Bersama Indah Dwiyanti dari Papua Barat, ia mendoakan agar Syaykh senantiasa dikaruniai kesehatan, umur panjang, dan keberkahan.

Dari kalangan lintas agama, Antonius, Ketua Persatuan Gereja-Gereja Indonesia, menyampaikan makna simbolis angka 80 sebagai awal kebangkitan menurut keyakinannya. Ia berharap momen ini menjadi gerbang bagi perubahan dan kemajuan yang lebih baik bagi seluruh bangsa.

Akademisi Prof. Dr. H. Irmaya Suradinata, S.H., M.H., M.S., didampingi Mayor Jenderal TNI (Purn) Kivlan Zen, S.I.P., M.Si (dosen IAI), menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi Syaykh membangun Al-Zaytun. Dalam sambutannya, Prof. Irmaya mengawali dengan pantun dan doa agar Syaykh beserta keluarga senantiasa sehat, bahagia, dan penuh keberkahan.

Rangkaian acara dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin dengan pembacaan dan pemaknaan Surah Al-Fatihah, ditujukan bagi Syaykh AS Panji Gumilang, keluarga, serta seluruh civitas Al-Zaytun agar senantiasa mendapat petunjuk di jalan yang lurus. Doa berisi harapan penuh keberkahan juga disampaikan Dr. Sulaeman dari Kalimantan Timur melalui sebuah pantun.

Prof. Dr. Conny R. membacakan surat terbuka yang berisi apresiasi atas gagasan-gagasan besar yang dikembangkan di Al-Zaytun. Menurutnya, lembaga ini telah membangun ekosistem pendidikan yang utuh, pembentukan karakter, hingga ketahanan pangan. Bahkan, keberadaan galangan kapal di lingkungan pendidikan mencerminkan pandangan jauh ke depan demi masa depan. “Bangunan fisik bisa runtuh atau berganti, namun gagasan besar yang bermanfaat bagi umat akan abadi,” tegasnya.

Ilmuwan Dr. HC Gita Wirjawan turut hadir dan mendoakan agar Syaykh senantiasa dijaga kesehatannya sehingga bisa terus berkarya dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

Acara kemudian memasuki sesi orasi ilmiah yang menyoroti pentingnya budaya berpikir terbuka dalam dunia akademik. Salah satu pembicara merujuk pandangan filsuf Aristoteles yang menekankan pentingnya keterbukaan terhadap koreksi melalui proses ilmiah yang sah. Dipaparkan pula data perkembangan pendidikan dunia, peran dokumentasi ilmu pengetahuan di Asia Tenggara, serta perbandingan kualitas pendidikan di Singapura dan Vietnam. Para pembicara sepakat bahwa Indonesia perlu memperkuat daya saing perguruan tinggi, memperbanyak peluang belajar ke luar negeri, serta mendorong riset dan budaya akademik yang kokoh sebagai modal kemajuan bangsa.

Dalam sesi motivasi, disampaikan pula tiga unsur penentu keberhasilan seorang pemimpin: ambisi yang terarah, imajinasi yang luas, serta keberuntungan yang didukung persiapan matang (smart luck). Ketiganya dinilai kunci membangun kepemimpinan adaptif yang membawa kemajuan nasional. Pembahasan juga merambah tantangan sektor energi dan elektrifikasi, di mana percepatan pembangunan infrastruktur dinilai krusial untuk mendukung industrialisasi, menyerap tenaga kerja, dan meningkatkan daya saing negara.

Peringatan HUT ke-80 Syaykh AS Panji Gumilang ditutup dengan kesan mendalam bagi seluruh peserta. Selain sebagai momen perayaan pribadi, kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi lintas elemen bangsa serta wadah bertukar gagasan untuk memajukan pendidikan, kepemimpinan, dan masa depan Indonesia.

(AsMEN / TIM MDI.NEWS)

Penulis: Dz Ayyub Editor: Dzulkarnain Ayyubi
WWW.MDI.NEWS