width=
width=

Benarkah Ada Penyebab Pasti Seseorang Jadi “Boti”? Ini Kata Sains

Ilustrasi

MDI.NEWS – Istilah “boti” belakangan makin sering muncul di media sosial, merujuk pada laki-laki dengan ekspresi lebih feminin dalam gaya bicara, gestur, atau penampilan. Istilah ini murni bahasa gaul, bukan istilah ilmiah atau diagnosis resmi dalam kajian akademik.

Banyak yang bertanya, apa sebenarnya penyebab seseorang berperilaku demikian. Apakah genetik, lingkungan, atau kebiasaan yang “menular” dari pergaulan.

Menurut American Psychological Association, hingga kini belum ada konsensus ilmiah tunggal soal penyebab orientasi seksual maupun ekspresi gender seseorang. Bahkan penyebab ketertarikan terhadap lawan jenis pun belum bisa dijelaskan secara pasti oleh sains.

Penelitian menunjukkan kemungkinan kombinasi beberapa faktor yang saling berkaitan, bukan satu penyebab tunggal.

Faktor genetik jadi salah satu yang paling banyak diteliti. Studi kembar oleh Bailey dan Pillard pada 1991 menemukan 52 persen kembar identik sama-sama memiliki orientasi homoseksual, dibanding 22 persen pada kembar non-identik. Angka ini menunjukkan ada kaitan genetik, meski belum bisa dipastikan sebagai penyebab tunggal.

Paparan hormon prenatal turut diduga berperan. Teori ini menyebut perubahan hormon tertentu, seperti testosteron, saat janin berkembang di rahim dapat memengaruhi struktur otak yang terbentuk kelak.

Sejumlah studi pencitraan otak juga menemukan perbedaan kecil pada struktur otak individu dengan orientasi seksual berbeda. Namun, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan hubungan sebab-akibatnya.

Peran faktor lingkungan justru jadi yang paling diperdebatkan. Sejumlah peneliti menyebut lingkungan berpengaruh besar, sementara peninjauan ilmiah lain menyebut buktinya masih lemah, terutama pada laki-laki.

Klaim populer soal perilaku ini “menular” lewat tontonan atau pergaulan, yang sering dikaitkan dengan teori neuron cermin, belum punya dasar ilmiah kuat sebagai penjelasan tunggal. Teori neuron cermin sendiri menjelaskan cara otak meniru gerakan yang diamati, bukan penyebab langsung terbentuknya orientasi seksual atau ekspresi gender.

Fenomena serupa “boti” sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Sejumlah daerah memiliki konsep ekspresi gender yang telah dikenal jauh sebelum istilah ini populer, seperti calabai dalam budaya Bugis atau tandak di Jawa Timur.

Hingga saat ini, sains belum menemukan jawaban tunggal soal penyebab seseorang memiliki ekspresi gender atau orientasi seksual tertentu. Yang bisa dipastikan, fenomena ini kompleks dan melibatkan interaksi banyak faktor, bukan hasil dari satu sebab yang bisa disederhanakan begitu saja.

Salbana PPL

WWW.MDI.NEWS