width=
width=

60% Gen Z RI Cemas Masa Depan, Ini Biang Keroknya di Dunia Kerja

Sumber/ Pinterest @lodie dela cruz

MDI.NEWS – Cap “Gen Z gampang nyerah kerja” makin sering terdengar di ruang publik. Namun data terbaru menunjukkan, ada alasan konkret di balik kecemasan generasi muda soal karier.

Survei Jakpat yang dipublikasikan GoodStats Data pada 8 April 2026 mengungkap, 60 persen Gen Z Indonesia mengaku khawatir menghadapi masa depan. Angka ini jadi faktor utama pemicu gangguan kesehatan mental di kalangan mereka.

Survei bertajuk “Facts About Gen Z: Challenges in Career and Mental Health” ini melibatkan 1.158 responden Gen Z. Pengumpulan data dilakukan pada 10-12 Desember 2025 lewat kuesioner daring aplikasi Jakpat.

Selain kekhawatiran masa depan, tekanan finansial jadi faktor signifikan dengan proporsi 57 persen. Ekspektasi sosial mengikuti di angka 42 persen, sementara 36 persen merasa tidak berdaya menghadapi situasi di luar kendali mereka.

Dampak dari tekanan ini terlihat nyata dalam keseharian Gen Z. Perubahan suasana hati atau mood swing jadi masalah paling umum, dialami 62 persen responden.

Gangguan tidur seperti insomnia atau tidur berlebihan menyusul di angka 50 persen. Kecemasan berlebih dan kesulitan mengelola emosi sama-sama tercatat pada 38 persen responden.

Meski begitu, ada sisi positif dari temuan ini. Gen Z dinilai lebih terbuka membicarakan kondisi mental dibanding generasi sebelumnya, dan lebih percaya pada layanan profesional seperti konseling dan terapi.

Fenomena ini menunjukkan paradoks menarik. Gen Z disebut generasi paling rentan dalam sistem ekonomi formal, namun sekaligus dinilai paling tangguh secara emosional karena keberanian mengenali dan mencari solusi atas masalah mentalnya.

Jadi, sulitnya Gen Z bertahan di bawah tekanan kerja bukan semata soal mental lemah. Ketidakpastian karier, beban finansial, dan ekspektasi sosial yang menumpuk jadi kombinasi nyata yang membentuk kondisi ini.

WWW.MDI.NEWS