width=
width=
TOKOH  

Gandhi dan Samin, Dua “Pemberontak” yang Tidak Angkat Senjata

INSKANEWS, Bekasi — Sejarah perjuangan melawan penjajahan sering identik dengan perang, senjata, dan pertumpahan darah. Namun, Mahatma Gandhi di India dan Samin Surosentiko di Indonesia menawarkan wajah perjuangan yang berbeda.

Keduanya memperlihatkan bahwa kekuasaan tidak selalu harus dilawan dengan kekerasan. Gandhi membangun gerakan satyagraha dan ahimsa perlawanan berdasarkan kebenaran dan tanpa kekerasan.untuk menghadapi kolonialisme Inggris.

Sementara itu, Samin Surosentiko bersama pengikutnya membangun gerakan sosial di Jawa yang menolak sejumlah kebijakan kolonial Belanda, terutama yang dianggap membebani rakyat. Keduanya sama-sama menunjukkan bahwa keberanian moral dapat menjadi senjata yang sangat kuat.

Gandhi percaya bahwa rakyat dapat melemahkan kekuasaan kolonial melalui ketidakpatuhan sipil, boikot, dan gerakan massa yang disiplin tanpa kekerasan. Ia tidak mengajarkan rakyat untuk membalas kekerasan dengan kekerasan, tetapi untuk mempertahankan kebenaran dengan keberanian.

Samin Surosentiko pun memiliki corak perjuangan yang berbeda dari perlawanan bersenjata. Pengikut Samin menolak beberapa kewajiban yang diberlakukan pemerintah kolonial dan mempertahankan prinsip hidup mereka melalui sikap tidak kooperatif. Gerakan tersebut kemudian dikenal sebagai gerakan Samin atau Sedulur Sikep.

Dengan cara yang berbeda, keduanya sama-sama memperlihatkan bahwa rakyat kecil dapat mengatakan “tidak” kepada kekuasaan yang dianggap tidak adil. Yang menarik, persamaan Gandhi dan Samin bukan terletak pada bentuk organisasinya, melainkan pada kekuatan prinsip.

Gandhi menjadikan kebenaran dan tanpa kekerasan sebagai fondasi perjuangan, sedangkan masyarakat Samin menekankan kejujuran, kesederhanaan, solidaritas, dan kemandirian dalam menjalani kehidupan. Mereka tidak menjadikan kebencian sebagai bahan bakar perjuangan. Justru karena itu, perlawanan mereka memiliki dimensi moral yang kuat.

Mereka mengingatkan bahwa melawan ketidakadilan tidak harus berarti menghancurkan pihak lain; perjuangan juga dapat dilakukan dengan mempertahankan martabat diri dan menolak ikut menjadi bagian dari ketidakadilan.

Namun, menyamakan Gandhi dan Samin secara keseluruhan tentu tidak tepat. Gandhi memimpin gerakan politik antikolonial berskala luas yang akhirnya menjadi salah satu kekuatan penting dalam perjuangan kemerdekaan India.

Gerakan Samin lebih merupakan gerakan sosial dan kultural masyarakat pedesaan Jawa yang menghadapi kebijakan kolonial dalam kehidupan sehari-hari. Konteks sejarah, tujuan politik, metode organisasi, dan skala perjuangan keduanya berbeda. Meski demikian, keduanya tetap dapat dibandingkan karena sama-sama memperlihatkan satu prinsip penting: perlawanan terhadap ketidakadilan dapat dilakukan melalui kekuatan moral dan keteguhan sikap.

Kini, ketika Indonesia telah merdeka dan kolonialisme dalam bentuk lama telah berlalu, warisan Gandhi dan Samin justru memperoleh makna baru. Perjuangan hari ini bukan lagi mengangkat senjata melawan penjajah, melainkan melawan korupsi, kebohongan, ketidakadilan, intoleransi, penyalahgunaan kekuasaan, dan berbagai bentuk pembusukan moral. Senjatanya adalah keberanian menyampaikan kebenaran, pendidikan, literasi, solidaritas, hukum, dan partisipasi masyarakat. Gandhi dan Samin seakan meninggalkan pesan yang sederhana tetapi mendalam: kemerdekaan bukan hanya kemampuan untuk bebas dari penjajahan, tetapi juga keberanian untuk tidak tunduk kepada ketidakadilan.

Mahatma Gandhi perjuangan politiknya berlangsung dari 1893 hingga 1947. Ia mulai aktif memperjuangkan hak masyarakat India di Afrika Selatan sejak 1893, kemudian memimpin gerakan kemerdekaan India setelah kembali ke India pada 1915. India merdeka pada 15 Agustus 1947.

Samin Surosentiko: gerakan Samin mulai berkembang sekitar akhir abad ke-19, terutama sejak 1890-an, di wilayah Blora dan sekitar Jawa Tengah. Gerakannya berkembang dan mendapat perhatian pemerintah kolonial pada awal abad ke-20. Samin Surosentiko kemudian ditangkap Belanda pada 1907 dan dibuang ke Padang, Sumatra, hingga wafat pada 1914. (***)

Penulis: Titi Ma'rufEditor: Imam Setiadi
WWW.MDI.NEWS