MDI.NEWS, Cilegon —– Pernahkah kita merenung, di negeri yang katanya menjunjung tinggi pendidikan, mengapa apresiasi terhadap “goyangan” seringkali jauh melampaui apresiasi terhadap “pemikiran”? Fenomena ini bukan sekadar guyonan di media sosial, melainkan realitas pahit yang baru-baru ini terpampang nyata di depan mata kita, khususnya dalam mrnghadapi perayaan hari jadi Kota Cilegon.
Sepertinya, kita sedang hidup di era di mana penghargaan terhadap pantat jauh lebih tinggi daripada otak.
Hiburan Mahal vs. Inovasi Murah
Mari kita bedah faktanya. Untuk mendatangkan artis papan atas guna menggoyang panggung perayaan ulang tahun kota, pemerintah daerah tidak segan-gelontorkan dana hingga ratusan juta, bahkan miliaran rupiah. Semua demi “menghibur rakyat” selama beberapa jam. Panggung megah, tata lampu berkilau, dan honor selangit diberikan tanpa tapi.
Namun, mari tengok ke sisi lain panggung: Para Peneliti dan Inovator.
Di sudut kota yang sama, ada anak-anak muda atau aparatur kreatif yang memeras otak mengikuti lomba inovasi. Mereka menciptakan solusi untuk UMKM, sampah, kemacetan, atau birokrasi yang berbelit. Hasilnya?
Hadiah yang Timpang: Seringkali nilai hadiah juara lomba inovasi tidak sampai sepersepuluh dari biaya sewa sound system konser artis.
Minim Apresiasi: Ironisnya, jangankan diajak duduk sejajar di panggung kehormatan, para juara inovasi ini bahkan seringkali tidak “ditengok” sekejap pun oleh Walikota.
Saat artis disambut dengan karpet merah dan pengawalan ketat, para pemilik otak cemerlang ini hanya diberikan piagam dalam seremoni yang sepi dan terburu-buru.
Mengapa Ini Berbahaya?
Ketimpangan ini mengirimkan pesan yang salah kepada generasi muda Cilegon: “Jangan susah-susah jadi pintar atau inovatif, cukup pandai bergoyang dan viral, maka hidupmu akan lebih dihargai.”
Jika pemimpin daerah lebih memilih berswafoto dengan penyanyi daripada berdiskusi dengan penemu teknologi tepat guna, maka kita sedang menuju kebangkrutan intelektual. Kota industri seperti Cilegon seharusnya menjadi inkubator ide, bukan sekadar panggung hiburan.
Menunggu Keberpihakan Walikota
Kita tidak anti hiburan. Rakyat butuh tertawa dan bernyanyi. Namun, ketika anggaran pesta pora jauh melampaui investasi pada sumber daya manusia dan inovasi, di situlah letak kegagalannya.
Sangat disayangkan jika pemimpin kota lebih bangga mengundang artis yang “mahal bayarannya” daripada merangkul mutiara-mutiara lokal yang membawa perubahan lewat otak mereka. Sudah saatnya Cilegon tidak hanya dikenal karena cerobong asap dan goyangan panggungnya, tapi juga karena keberpihakan pemimpinnya pada mereka yang bekerja dengan logika dan kreativitas.
Jangan sampai di masa depan, anak cucu kita lebih hafal lirik lagu terbaru daripada cara memecahkan masalah di kota mereka sendiri. Karena pada akhirnya, goyangan mungkin menghibur, tapi inovasilah yang membangun. (***)







