MDI.NEWS, Jakarta—–Ketua Gabungan Kepala Staf Amerika Serikat dilaporkan memberikan peringatan kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, Minggu, (1/3/26) terkait rencana potensi serangan militer terhadap Iran. Peringatan tersebut disampaikan dalam pembahasan internal pertahanan di Washington di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Informasi yang beredar menyebutkan bahwa peringatan itu memuat tiga risiko utama yang dinilai dapat menjerumuskan Amerika Serikat ke dalam konflik berkepanjangan.
Pertimbangan tersebut muncul saat pemerintah AS mengevaluasi opsi militer sebagai bagian dari respons strategis terhadap Iran.
Risiko pertama berkaitan dengan ketersediaan amunisi. Persediaan rudal dan bom presisi Amerika Serikat disebut mengalami tekanan setelah dukungan militer yang diberikan kepada Israel dan Ukraina. Jika operasi militer berlangsung lama, kebutuhan logistik dikhawatirkan meningkat tajam dan berpotensi menguras stok persenjataan dalam waktu singkat.
Risiko kedua menyangkut kemungkinan berkurangnya dukungan internasional.
Berbeda dengan operasi militer di Irak dan Afganistan pada masa lalu, sejumlah negara anggota NATO diperkirakan belum tentu terlibat langsung dalam konfrontasi terbuka dengan Iran. Kondisi tersebut berpotensi membuat Washington menghadapi konflik dengan dukungan yang terbatas.
Risiko ketiga dinilai sebagai yang paling kompleks dan berbahaya. Fasilitas nuklir dan instalasi rudal Iran tersebar di berbagai wilayah, termasuk lokasi yang diperkuat dan berada di bawah tanah. Penyebaran ini menyulitkan kemungkinan penghancuran menyeluruh hanya melalui satu gelombang serangan.
Situasi tersebut dinilai dapat memberi waktu bagi Iran untuk melakukan serangan balasan. Pangkalan militer, kapal perang, dan personel Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah berpotensi menjadi sasaran jika eskalasi tidak terkendali. Dampaknya dapat meluas dan meningkatkan ketidakstabilan regional.
Dalam analisis internal, pihak militer disebut menilai bahwa kesalahan perhitungan sekecil apa pun dapat memicu konflik yang lebih luas dari perkiraan awal. Risiko eskalasi cepat menjadi salah satu faktor yang ditekankan dalam pembahasan strategis tersebut.
Meski demikian, Presiden Donald Trump dilaporkan tidak sepenuhnya menerima penilaian risiko tersebut. Ia disebut tetap mempertimbangkan opsi militer sebagai bagian dari strategi tekanannya terhadap Iran, meskipun sejumlah kalangan pertahanan mengingatkan potensi konsekuensi besar yang dapat timbul. (***)







