width=
width=

Karhutla Meluas di Kalimantan, Kabut Asap Ganggu Aktivitas Warga dan Ancam Kualitas Udara

Sumber Foto/Web @kehutanan.go.id/

MDI.NEWS, Bekasi – Kondisi sejumlah wilayah di Pulau Kalimantan saat ini tengah menghadapi ancaman serius kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sejumlah daerah dilaporkan diselimuti kabut asap dengan jarak pandang yang menurun, sementara titik panas terus terpantau di beberapa provinsi.

Berdasarkan data BNPB per 19 Agustus 2026 yang dikutip dalam laporan terbaru, terdapat 1.487 titik panas di seluruh Kalimantan. Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah titik panas tertinggi, yakni 767 titik, disusul Kalimantan Barat sebanyak 441 titik, Kalimantan Selatan 34 titik, dan Kalimantan Utara 17 titik.

Kondisi di Kalimantan Tengah menjadi salah satu perhatian utama. Hingga 19 Agustus 2026, tercatat 1.543 kejadian kebakaran dengan luas lahan yang terbakar mencapai 4.115 hektare. Akumulasi titik panas di wilayah tersebut sejak Januari hingga 19 Agustus 2026 mencapai 14.621 hotspot.

Kabut asap juga mulai mengganggu aktivitas masyarakat. Di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah, asap dilaporkan menyelimuti permukiman dan ruas jalan sehingga mengurangi jarak pandang pengguna kendaraan. Warga juga mengeluhkan kondisi udara yang semakin pekat dalam beberapa hari terakhir.

Di Kalimantan Selatan, kondisi serupa terjadi di sejumlah kawasan Kota Banjarbaru. Kabut asap pekat dilaporkan menyelimuti wilayah Landasan Ulin, Liang Anggang hingga Pengayuan. Kondisi tersebut mengganggu jarak pandang dan membuat aktivitas masyarakat, khususnya pengguna jalan, harus dilakukan dengan lebih berhati-hati.

Bahkan, laporan terbaru menyebutkan jarak pandang di sebagian wilayah Banjarbaru sempat turun hingga sekitar 10 meter akibat pekatnya kabut asap. Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya dirasakan di lokasi kebakaran, tetapi juga dapat memengaruhi wilayah permukiman dan jalur aktivitas masyarakat.

Sementara di Kalimantan Barat, pemerintah juga memperkuat pengawasan terhadap potensi karhutla. Kementerian Kehutanan sebelumnya melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah perusahaan kehutanan untuk memastikan kesiapan sarana, prasarana, personel, dan sistem pengendalian kebakaran menghadapi periode rawan kebakaran.

Dampak karhutla juga mulai menyentuh sektor pendidikan dan transportasi. Kabut asap yang semakin pekat dilaporkan mengganggu aktivitas sekolah serta penerbangan di sejumlah wilayah Kalimantan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa karhutla bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan langsung dengan kesehatan, keselamatan, pendidikan, dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Pemerintah daerah dan unsur terkait terus melakukan upaya pemadaman serta pengendalian kebakaran. Di beberapa lokasi, keterbatasan akses menuju titik api menjadi salah satu kendala sehingga dukungan pemadaman dari udara turut dibutuhkan.

Kondisi Kalimantan saat ini menjadi pengingat bahwa pencegahan karhutla membutuhkan respons cepat dan kolaborasi seluruh pihak. Pemerintah, aparat, perusahaan, relawan, dan masyarakat memiliki peran penting dalam mencegah meluasnya kebakaran sekaligus mengurangi dampak kabut asap.

Di tengah meningkatnya ancaman karhutla, keselamatan masyarakat dan perlindungan lingkungan harus menjadi prioritas. Kalimantan bukan hanya wilayah dengan kekayaan hutan dan keanekaragaman hayati yang besar, tetapi juga rumah bagi jutaan masyarakat yang membutuhkan lingkungan yang aman dan udara yang sehat.

WWW.MDI.NEWS