MDI.NEWS , Bekasi – Dalang kenamaan KRA. Ki H. Gunarto Gunotalijendro, S.H., M.M., menunjukkan kepiawaiannya dalam seni pedalangan saat tampil pada Konser Wayang Milenial Indonesia dalam rangka memperingati Hari Wayang Nasional VIII di Marakas Square, Pondok Ungu Permai, Bekasi, Pada Sabtu (7/11/2026) malam. Penampilan dalang yang telah berkiprah di berbagai panggung internasional, termasuk Asia dan Eropa, tersebut menjadi salah satu daya tarik utama dalam pergelaran yang diselenggarakan bersama Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) DKI Jakarta.
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 20.00 WIB itu dihadiri ratusan pengunjung dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat, seniman, budayawan, tokoh masyarakat hingga generasi muda. Pertunjukan tersebut mengusung konsep perpaduan seni pedalangan tradisional dengan pendekatan yang lebih modern agar semakin dekat dengan generasi milenial. Antusiasme penonton terlihat dari penuhnya area pertunjukan hingga sebagian pengunjung rela berdiri untuk menyaksikan langsung penampilan sang maestro.
Dalam kesempatan tersebut, Ki Gunarto membawakan lakon Hanoman Takon Bopo, yang mengisahkan perjalanan Hanoman dalam menemui ayahnya. Melalui cerita tersebut, ia menyampaikan pesan moral mengenai bakti kepada orang tua, kejujuran, keberanian, serta ketulusan dalam menjalankan pengabdian. Kepiawaiannya mengolah dialog, memainkan karakter wayang, dan menyisipkan humor yang relevan dengan kehidupan masa kini membuat suasana pertunjukan berlangsung dinamis, sekaligus menghadirkan pesan pendidikan karakter bagi para penonton.
Ki Gunarto menegaskan bahwa wayang tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga sarana menyampaikan nilai-nilai kehidupan kepada masyarakat. Menurutnya, generasi muda perlu mengenal dan memahami pesan luhur yang terkandung dalam setiap lakon pewayangan. Ia juga mengungkapkan kebanggaannya dapat kembali tampil di tanah air setelah membawa seni pedalangan Indonesia ke berbagai negara, seperti Jepang, Amerika Serikat, Australia, Vatikan, Italia, Turkiye, China, Kanada, dan Selandia Baru. “Saya sudah keliling dunia membawakan wayang. Namun, tampil di negeri sendiri, di hadapan anak-anak muda Indonesia, merupakan kebanggaan tersendiri. Wayang harus hidup di rumahnya sendiri terlebih dahulu sebelum kita memperkenalkannya kepada dunia,” ujar Ki Gunarto.
Apresiasi terhadap penampilan tersebut juga disampaikan Ketua Umum Sanggar Rizki yang didampingi Pembina Ki Dalang Sugiyanto Kuncaningrat. Kehadiran Ki Gunarto dinilai bukan hanya menghadirkan pertunjukan seni berkualitas, melainkan juga memberikan inspirasi dan pembelajaran langsung bagi para seniman muda.
Pengalaman internasional yang dimiliki sang maestro menjadi motivasi bagi Sanggar Rizki untuk terus mengembangkan seni pedalangan serta mendorong lahirnya generasi penerus yang memiliki kecintaan terhadap budaya bangsa. “Malam ini kami belajar langsung dari seorang maestro. Ki Gunarto bukan hanya dalang, tetapi juga guru dan teladan bagi kami. Beliau telah membawa nama wayang Indonesia hingga ke berbagai negara, tetapi tetap rendah hati dan bersedia tampil untuk masyarakat di Marakas Square,” ungkap Ketua Umum Sanggar Rizki.
Sementara itu, Ki Dalang Sugiyanto Kuncaningrat, selaku Pembina Sanggar Rizki sekaligus Dewan Penasihat Bidang Seni dan Budaya Persatuan Jurnalis Pembangunan Indonesia (PJPI), menilai pertunjukan tersebut menjadi bukti bahwa wayang tetap relevan sebagai bagian dari identitas dan warisan budaya bangsa.
Ia menekankan bahwa seni pedalangan memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda melalui nilai budi pekerti, kesetiaan, keberanian, dan kebijaksanaan.
“Wayang bukan hanya seni pertunjukan, tetapi juga media pendidikan karakter. Di dalam setiap lakon terdapat ajaran tentang budi pekerti, kesetiaan, keberanian, dan kebijaksanaan. Apa yang ditampilkan Ki Gunarto malam ini merupakan pelajaran berharga bagi generasi penerus,” tuturnya.
Sugiyanto juga mengapresiasi konsep Konser Wayang Milenial Indonesia yang mampu memadukan unsur tradisi dengan pendekatan pertunjukan yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman tanpa menghilangkan pakem dan nilai budaya Jawa. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus diselenggarakan di berbagai daerah melalui kolaborasi antara komunitas seni, organisasi pedalangan, dan elemen masyarakat.
Sanggar Rizki pun menyatakan kesiapannya untuk bersinergi dengan PEPADI DKI Jakarta dan PJPI dalam mendukung berbagai kegiatan pelestarian budaya. Kemasan pertunjukan yang atraktif, didukung iringan gamelan, tata cahaya panggung, serta siaran langsung melalui kanal YouTube Andika Multimedia New dan Gatot Jatayu, turut memperluas jangkauan penonton.
Antusiasme masyarakat sepanjang pertunjukan menjadi gambaran bahwa seni wayang masih memiliki tempat di tengah perkembangan hiburan modern. Sejumlah anak muda yang semula datang karena penasaran terlihat larut mengikuti jalannya cerita, menikmati humor, serta memberikan tepuk tangan ketika adegan tertentu dimainkan. Salah seorang pengunjung asal Pondok Ungu Permai mengaku senang dapat menyaksikan langsung penampilan dalang yang telah tampil di berbagai negara.
“Biasanya saya menonton wayang melalui televisi. Malam ini bisa menyaksikan langsung Ki Gunarto di lingkungan sendiri. Pertunjukannya luar biasa dan anak saya juga menjadi tertarik mengenal wayang,” ujarnya.
Pergelaran tersebut sekaligus menegaskan bahwa modernisasi wayang bukan berarti meninggalkan tradisi, melainkan menjadi upaya menjaga warisan leluhur agar tetap dikenal, dicintai, dan diwariskan kepada generasi mendatang. (***)






