MDI.NEWS – Skor IQ dan literasi Indonesia kerap disebut rendah dibanding negara lain. Data menunjukkan penyebabnya bukan potensi bawaan, melainkan akses pendidikan dan gizi yang belum merata.
Survei Perpustakaan Nasional mencatat skor minat baca masyarakat masuk kategori tinggi, di kisaran 66 hingga 71 dari skala 100. Namun skor PISA (OECD) untuk literasi membaca hanya 359 poin, jauh di bawah rata-rata negara OECD sebesar 476 poin, dan berada di peringkat ke-71 dari 81 negara.
Perbedaannya ada pada apa yang diukur. Perpusnas mengukur frekuensi membaca, sementara PISA mengukur kemampuan menganalisis dan menarik kesimpulan dari teks yang rumit. Minat baca tinggi, tapi kemampuan berpikir kritis masih jadi tantangan.
Faktor gizi turut berperan. Prevalensi stunting nasional turun dari 30,8 persen pada 2018 menjadi 19,8 persen pada 2024, pertama kalinya di bawah ambang batas WHO sebesar 20 persen. Kekurangan gizi kronis pada masa pertumbuhan memengaruhi perkembangan otak dan kemampuan belajar anak.
Dibanding negara ASEAN lain, Vietnam mencatat skor PISA 462 poin berkat standar guru ketat dan kurikulum yang fokus pada literasi sejak dini, meski pendapatan per kapitanya tak setinggi Malaysia. Indonesia menghadapi tantangan tambahan berupa skala populasi dan kondisi geografis kepulauan.
Angka “IQ Nasional” yang kerap viral di internet juga perlu dicermati. Konsep ini dipopulerkan psikolog Richard Lynn lewat buku IQ and the Wealth of Nations. Psikolog Jelte Wicherts dari Tilburg University menemukan Lynn kerap memakai sampel kecil tak representatif, bahkan mengabaikan hasil tes tinggi dari negara berkembang.
Konsep Flynn Effect menjelaskan skor IQ populasi dunia terus naik dari generasi ke generasi, sekitar 3 poin per dekade. Kecepatan ini terlalu singkat untuk dijelaskan lewat perubahan genetik, sehingga skor tes lebih mencerminkan kondisi lingkungan dibanding potensi bawaan.
Skor literasi dan kognitif Indonesia saat ini adalah potret dari tantangan akses pendidikan dan gizi di masa lalu. Seiring penurunan stunting dan pemerataan fasilitas belajar, ruang pertumbuhan kualitas kognitif generasi mendatang masih terbuka lebar.






