MDI.NEWS – Istilah backburner belakangan makin sering muncul di pembahasan soal hubungan asmara, terutama di kalangan pengguna aplikasi kencan. Istilah ini merujuk pada seseorang yang sengaja dijaga komunikasinya, meski tidak berstatus pacar.
Backburner biasanya bukan mantan atau selingkuhan aktif. Orang ini disimpan sebagai opsi cadangan, siap “dipanaskan kembali” jika hubungan utama berakhir atau saat merasa kesepian.
Peneliti Jayson L. Dibble dari Hope College dan Michelle Drouin dari Indiana University-Purdue University Fort Wayne jadi pihak pertama yang mengangkat topik ini secara ilmiah.
Studi mereka mendefinisikan backburner sebagai prospek romantis atau seksual yang tetap dikomunikasikan, meski tanpa komitmen eksklusif.
Penelitian lanjutan Dibble dan Drouin terhadap 658 mahasiswa menemukan, 72,9 persen mengaku memiliki setidaknya satu backburner.
Bahkan di antara yang sudah berkomitmen dalam hubungan, 55,6 persen tetap mempertahankan komunikasi dengan backburner.
Media sosial dan aplikasi chat jadi faktor pendukung utama fenomena ini. Fitur seperti DM atau pesan singkat membuat komunikasi dengan backburner lebih mudah dipertahankan tanpa terasa mencolok.
Secara psikologis, mempertahankan backburner sering dikaitkan dengan rasa tidak aman terhadap hubungan yang sedang dijalani. Menyimpan opsi lain memberi rasa “aman” jika hubungan utama tidak berjalan baik.
Perilaku ini juga bisa muncul dari kebiasaan mencari validasi. Perhatian dari backburner memberi rasa dihargai tanpa harus menanggung komitmen atau konsekuensi emosional yang besar.
Dari sisi pasangan yang tidak tahu, keberadaan backburner bisa dianggap bentuk pengkhianatan emosional. Meski tanpa kontak fisik, komunikasi yang disimpan diam-diam tetap dianggap melanggar kepercayaan.
Sejumlah psikolog relasi menyebut, kebiasaan menyimpan backburner berpotensi menghambat kedalaman hubungan yang sedang dijalani. Fokus yang terbagi membuat seseorang sulit berinvestasi penuh secara emosional.
Fenomena backburner pada akhirnya mencerminkan pergeseran cara manusia modern memaknai komitmen. Kemudahan akses komunikasi membuat batas antara “setia” dan “menyimpan opsi” kian kabur di era digital.






