width=
width=

Ahmad Ruzizan Maphilindo dan Harapan Indonesia-Malaysia Harmonis

MDI.NEWS, Indramayu—–Hubungan antarbangsa tidak selalu dibangun melalui perjanjian diplomatik atau kerja sama ekonomi. Sering kali, hubungan yang paling kuat justru tumbuh dari persaudaraan, kesamaan sejarah, kedekatan budaya, dan perjumpaan antarmanusia yang dilandasi saling menghormati.

Sebagai bangsa serumpun yang dipisahkan oleh batas negara, Indonesia dan Malaysia memiliki banyak kesamaan yang menjadi jembatan bagi lahirnya kerja sama dan persahabatan yang lebih erat. Pesan itulah yang disampaikan A. Ruzizan Maphilindo, tokoh masyarakat Malaysia, saat menghadiri Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, Ma’had Al Zaytun, Selasa (16/6/2026).

Di tengah pertemuan yang dihadiri tokoh-tokoh nasional, akademisi, pemimpin lintas agama, unsur TNI dan Polri, serta masyarakat dari berbagai daerah, kehadiran Ruzizan Maphilindo menjadi simbol eratnya hubungan persaudaraan antara masyarakat Indonesia dan Malaysia.

Menurut Ruzizan Maphilindo, Indonesia dan Malaysia memiliki ikatan sejarah, budaya, dan nilai-nilai kehidupan yang sangat dekat. Meski berada dalam dua negara yang berbeda, masyarakat kedua bangsa sesungguhnya memiliki akar peradaban yang saling terhubung. Bahasa yang serumpun, budaya yang saling memengaruhi, serta nilai-nilai kekeluargaan yang kuat menjadi modal penting dalam membangun hubungan yang harmonis.

Karena itu, menurutnya, kerja sama dan persahabatan antarbangsa harus terus diperkuat demi menghadapi berbagai tantangan global yang semakin kompleks. Di era yang penuh kompetisi saat ini, bangsa-bangsa serumpun memiliki kepentingan yang sama untuk membangun kawasan yang damai, maju, dan sejahtera.

Ruzizan Maphilindo mengaku terkesan dengan suasana yang ia rasakan selama mengikuti kegiatan di Al Zaytun. Baginya, Al Zaytun bukan hanya lembaga pendidikan, tetapi juga ruang perjumpaan yang mempertemukan berbagai kelompok masyarakat dalam suasana persaudaraan.

Ia melihat bagaimana tokoh agama, akademisi, pejabat pemerintah, masyarakat umum, dan generasi muda dapat duduk bersama dalam satu forum untuk membicarakan masa depan bangsa. Menurutnya, suasana seperti itu sangat penting di tengah dunia yang semakin dipenuhi berbagai bentuk polarisasi dan konflik identitas.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu membuka ruang dialog. Bangsa yang maju adalah bangsa yang mampu membangun kepercayaan di tengah keberagaman. Dan Al Zaytun, menurutnya, telah menunjukkan contoh yang baik mengenai bagaimana dialog dapat menjadi sarana memperkuat persatuan.

Dalam paparannya, Ruzizan Maphilindo juga memberikan perhatian khusus pada dunia pendidikan. Menurutnya, masa depan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas manusia yang dipersiapkan hari ini. Sumber daya alam yang melimpah tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila tidak didukung oleh sumber daya manusia yang unggul. Karena itu, investasi terbesar yang dapat dilakukan sebuah bangsa adalah investasi pada pendidikan.

Ia menilai berbagai upaya yang dilakukan Al Zaytun dalam mengembangkan pendidikan yang terintegrasi antara ilmu pengetahuan, karakter, keterampilan, dan nilai-nilai kebangsaan merupakan langkah yang sangat strategis. Menurutnya, pendidikan seperti itulah yang diperlukan untuk menghadapi tantangan abad ke-21.

Tema yang diangkat dalam peringatan 1 Muharram 1448 Hijriah, yakni “Memperkokoh Persatuan Demi Mewujudkan Kemandirian Bangsa dalam Menghadapi Tantangan Global,” mendapat perhatian khusus dari Ruzizan Maphilindo. Menurutnya, tidak ada bangsa yang mampu maju tanpa persatuan. Perbedaan yang ada dalam masyarakat harus dikelola menjadi kekuatan bersama.

Persatuan akan melahirkan stabilitas dan persatuan akan memudahkan bangsa menghadapi berbagai tantangan global. Karena itu, menjaga persaudaraan dan memperkuat kebersamaan harus menjadi agenda bersama seluruh elemen masyarakat.

Menatap masa depan kawasan yang lebih baik, sebagai tokoh masyarakat Malaysia, Ruzizan Maphilindo juga menyampaikan harapannya agar hubungan masyarakat Indonesia dan Malaysia semakin erat di masa depan. Menurutnya, kedua bangsa memiliki banyak peluang untuk bekerja sama, baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, kebudayaan, maupun pembangunan sumber daya manusia.

Kerja sama tersebut tidak hanya akan memberikan manfaat bagi kedua negara, tetapi juga bagi kemajuan kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan. Dalam dunia yang semakin saling terhubung, semangat persaudaraan dan kolaborasi menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan.

Dari Al Zaytun untuk Dunia Melayu, menjelang akhir paparannya, Ruzizan Maphilindo menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya peringatan 1 Muharram 1448 Hijriah di Al Zaytun yang berhasil menghadirkan berbagai tokoh dari latar belakang yang beragam dalam satu forum kebangsaan.

Menurutnya, kegiatan seperti ini menunjukkan bahwa dialog, pendidikan, dan persaudaraan tetap menjadi jalan terbaik dalam membangun masa depan. Dari podium Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin Al Zaytun, ia menyampaikan pesan yang penuh harapan. Bahwa bangsa-bangsa serumpun akan menjadi lebih kuat apabila memilih bekerja sama daripada bersaing secara tidak sehat.

Bahwa persaudaraan akan selalu lebih bernilai daripada permusuhan. Dan bahwa masa depan yang lebih baik hanya dapat dibangun melalui pendidikan, kebersamaan, dan saling menghormati. Sebab pada akhirnya, batas negara boleh memisahkan wilayah. Namun persaudaraan akan selalu mampu menyatukan hati dan cita-cita untuk membangun peradaban yang lebih baik bagi generasi mendatang. (***)

 

(Ali Aminulloh)

Penulis: Ali Aminulloh
WWW.MDI.NEWS