MDI.NEWS, Jakarta—–Pemerintah memastikan ketersediaan pangan nasional tetap aman meskipun Indonesia berpotensi menghadapi fenomena El Nino yang diperkirakan berdampak pada sektor pertanian. Pada Sabtu, (20/06).
Kepastian tersebut disampaikan Menteri Pertanian, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P. seusai memenuhi panggilan Presiden Republik Indonesia untuk melaporkan perkembangan sektor pangan, hortikultura, peternakan, dan perkebunan di Istana Kepresidenan, Jakarta.
Dalam laporannya kepada Presiden, Menteri Pertanian menyebutkan bahwa stok pangan nasional hingga Juni 2026 berada pada kisaran 5,2 juta ton. Selain itu, terdapat potensi produksi dari tanaman yang sedang tumbuh (standing crop) sekitar 10 hingga 11 juta ton, serta cadangan beras yang tersimpan di hotel, rumah tangga, dan restoran sekitar 12,5 juta ton. Kondisi tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama 10 hingga 11 bulan ke depan.
“Dengan cadangan yang ada saat ini, kebutuhan pangan nasional diperkirakan aman hingga April tahun depan. Sementara panen raya akan berlangsung pada Maret, sehingga risiko dampak El Nino dapat dimitigasi,” kata Andi Amran.
Untuk mengantisipasi ancaman kekeringan akibat El Nino, pemerintah telah memperkuat berbagai infrastruktur pertanian melalui pembangunan embung, irigasi perpompaan, sumur dalam, optimalisasi lahan rawa, hingga program cetak sawah baru.
Berbagai langkah tersebut dilakukan guna menjaga produktivitas pertanian sekaligus memastikan pasokan pangan tetap terjaga di seluruh wilayah Indonesia.
Di sektor peternakan, pemerintah juga melakukan intervensi guna menjaga stabilitas harga ayam dan telur. Kementerian Pertanian bersama para pelaku usaha peternakan telah menggelar pertemuan untuk mencari solusi atas penurunan harga di tingkat peternak.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah mendorong peningkatan konsumsi telur dan ayam melalui program pemerintah agar harga kembali stabil.
Sementara itu, pada sektor perkebunan, pemerintah mempercepat program hilirisasi komoditas strategis seperti kelapa, kakao, kopi, mete, dan tebu. Program tersebut mencakup pengembangan lahan seluas 870 ribu hektare yang diperuntukkan bagi petani di berbagai daerah, termasuk di Papua.
Pemerintah juga menyalurkan bantuan berupa alat dan mesin pertanian, pembangunan sawah, serta dukungan anggaran yang mencapai lebih dari Rp5,5 triliun dalam dua tahun terakhir.
Andi Amran juga menyoroti anomali harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang sempat mengalami penurunan meskipun harga minyak sawit mentah (CPO) dunia dan nilai tukar dolar Amerika Serikat mengalami kenaikan.
Pemerintah telah memanggil pelaku usaha dan meminta penyesuaian harga agar tidak merugikan petani sawit. Langkah pengawasan turut melibatkan aparat penegak hukum untuk memastikan harga TBS kembali normal sesuai kondisi pasar.
“Jangan bermain-main dengan nasib petani. Presiden mengarahkan agar keberpihakan kepada petani plasma sawit benar-benar diwujudkan. Alhamdulillah, sebagian besar perusahaan sudah menyesuaikan harga TBS dan kami optimistis kondisi akan kembali normal dalam waktu dekat,” ujarnya.
Lebih lanjut, pemerintah menegaskan bahwa target swasembada pangan nasional terus diperkuat. Dari 12 komoditas pangan strategis, delapan di antaranya telah mencapai swasembada bahkan mampu diekspor.
Pemerintah juga mencatat tidak ada impor beras medium sepanjang tahun 2025 hingga 2026. Di tengah dinamika global akibat konflik geopolitik internasional, pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan agar tetap terjangkau bagi masyarakat serta tidak menjadi penyumbang utama inflasi nasional. (***)
(Rizki)






