MDINEWS, – Kota Bekasi. Persoalan anak putus sekolah di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah anak tidak sekolah (ATS) di Indonesia saat ini mencapai hampir 4 juta orang. Angka tersebut menjadi sorotan dalam podcast AsMEN Talk yang menghadirkan Ketua Umum SP2MI, Drs. Amirudin Yusuf, sebagai narasumber dalam wawancara di Studio AsMEN, Kota Bekasi, Selasa (14/7/2026).
Dalam perbincangan tersebut, Amirudin menjelaskan bahwa dirinya turut terlibat dalam program pendataan dan penanganan anak putus sekolah di dua wilayah kabupaten selama satu tahun terakhir. Namun, ia mengaku pesimistis target pemerintah untuk menekan angka ATS hingga nol pada tahun 2045 dapat tercapai, mengingat skala program yang berjalan saat ini masih sangat kecil dibandingkan besarnya masalah.
“Di satu titik program, kami hanya diminta menuntaskan 140 anak. Sementara keterlibatan organisasi masyarakat yang mendampingi pun baru sekitar 13 orang,” ujar Amiruddin.
Sebagai langkah strategis, pemerintah melalui arahan Presiden telah meluncurkan program Sekolah Rakyat sebagai upaya menjangkau anak-anak dari keluarga kurang mampu agar tetap bisa menempuh pendidikan. Program ini disebut selaras dengan Program Keluarga Harapan (PKH) yang selama ini juga menyasar keluarga kurang mampu, meski menurut Amirudin, sasaran kedua program tersebut tidak inner sepenuhnya sama.
Ketua Umum SP2MI ini juga menegaskan adanya keterkaitan erat antara kemiskinan dan tingginya angka putus sekolah. Menurutnya, ketidakberdayaan ekonomi menjadi faktor utama yang menyebabkan anak-anak kehilangan akses pendidikan, sementara pendidikan sendiri diyakini sebagai kunci untuk memutus rantai kemiskinan antar generasi.
“Persoalan ini sebenarnya menjadi tanggung jawab bersama. Jika dibiarkan, kondisi ini akan sangat berbahaya bagi perkembangan masyarakat ke depan,” tambah Amirudin.
Ia berharap ke depan akan ada gerakan nasional yang lebih masif untuk menuntaskan target 4 juta anak putus sekolah, dengan melibatkan lebih banyak elemen masyarakat, bukan hanya mengandalkan program pemerintah semata. (***)
Sumber: Wawancara program AsMEN Talk.






