MDI.NEWS, Indramayu—–Bangsa yang besar dibangun oleh mereka yang mampu melihat persamaan di tengah perbedaan, menemukan harapan di tengah tantangan, dan menumbuhkan persaudaraan di atas berbagai latar belakang yang berbeda.
Pesan itulah yang mengalir kuat dalam paparan Dr. Bagus, pada Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah yang diselenggarakan di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, Ma’had Al Zaytun, Selasa (16/6/2026).
Dalam suasana yang sarat semangat persatuan, Dr. Bagus mengajak seluruh peserta untuk melihat Indonesia sebagai rumah bersama yang harus dijaga, dirawat, dan dibangun oleh seluruh anak bangsa tanpa memandang latar belakang agama, suku, maupun golongan. Menurut Dr. Bagus, Indonesia merupakan anugerah besar yang lahir dari kesediaan para pendiri bangsa untuk menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan kelompok. Bangsa ini tidak dibangun oleh satu golongan tertentu.
Indonesia lahir dari perjumpaan berbagai budaya, agama, bahasa, dan tradisi yang kemudian sepakat membentuk satu identitas bersama sebagai bangsa Indonesia. Karena itu, menjaga Indonesia berarti menjaga semangat kebersamaan yang telah diwariskan oleh para pendiri bangsa.
Menurutnya, tantangan terbesar bangsa saat ini bukanlah keberagaman itu sendiri, melainkan bagaimana menjaga semangat persaudaraan di tengah berbagai perbedaan yang ada. Jika persaudaraan tetap terjaga, maka perbedaan akan menjadi kekuatan.
Namun jika persaudaraan mulai luntur, maka perbedaan berpotensi menjadi sumber perpecahan. Persatuan Lebih Penting dari Perbedaan. Dalam paparannya, Dr. Bagus menegaskan bahwa terlalu banyak energi bangsa yang terbuang karena perdebatan yang tidak produktif..Di era digital saat ini, masyarakat sering kali lebih mudah melihat perbedaan dibandingkan persamaan. Padahal, sebagai warga negara Indonesia, terdapat jauh lebih banyak hal yang mempersatukan daripada yang memisahkan.
Menurutnya, bangsa Indonesia harus mulai membangun budaya dialog dan saling mendengarkan. Perbedaan pandangan adalah sesuatu yang wajar. Namun perbedaan tidak boleh berkembang menjadi permusuhan. Justru dari keberagaman gagasan itulah lahir kekuatan untuk menemukan solusi terbaik bagi bangsa.
Indonesia Baru Memerlukan Kolaborasi, Dr. Bagus juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun Indonesia masa depan. Menurutnya, tantangan yang dihadapi bangsa saat ini terlalu besar untuk diselesaikan oleh satu kelompok atau satu institusi saja.
Persoalan pendidikan memerlukan keterlibatan akademisi, ekonomi memerlukan kontribusi dunia usaha, sosial memerlukan kepedulian masyarakat. Dan persoalan kebangsaan memerlukan kerja sama seluruh elemen bangsa. Karena itu, semangat gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia harus terus dihidupkan bukan lagi pilihan.
Kolaborasi adalah kebutuhan, Al Zaytun sebagai Simbol Dialog Kebangsaan. Salah satu hal yang mendapat apresiasi dari Dr. Bagus adalah kemampuan Al Zaytun menghadirkan ruang dialog yang terbuka bagi berbagai elemen bangsa.
Menurutnya, tidak banyak tempat yang mampu mempertemukan tokoh-tokoh lintas agama, akademisi, pejabat negara, tokoh masyarakat, dan generasi muda dalam satu forum yang penuh suasana persaudaraan. Peringatan 1 Muharram 1448 Hijriah di Al Zaytun menunjukkan bahwa dialog tetap menjadi jalan terbaik untuk membangun saling pengertian.
Ketika orang bertemu dan berbicara, prasangka akan berkurang, ketika komunikasi terjalin, kepercayaan akan tumbuh, dan ketika kepercayaan tumbuh, persatuan akan semakin kuat. Menatap Indonesia Raya menurut Dr. Bagus, Indonesia memiliki masa depan yang sangat menjanjikan.
Bangsa ini memiliki sumber daya alam yang melimpah, posisi strategis di dunia, jumlah penduduk yang besar, serta kekayaan budaya yang luar biasa. Namun semua potensi tersebut hanya akan menjadi kekuatan apabila dikelola dalam suasana persatuan.
Karena itu, ia mengajak seluruh peserta untuk terus menumbuhkan optimisme dan semangat kebangsaan, Indonesia tidak boleh terjebak dalam pesimisme, Indonesia harus percaya kepada kemampuannya sendiri, dan Indonesia harus percaya kepada generasi mudanya.
Dan Indonesia harus percaya bahwa persatuan akan menjadi kekuatan utama dalam menghadapi berbagai tantangan global. Merawat Harapan untuk Generasi Mendatang, menjelang akhir paparannya, Dr. Bagus mengajak seluruh peserta untuk tidak pernah lelah merawat persaudaraan.
Menurutnya, masa depan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa besar kekayaan yang dimiliki, melainkan oleh seberapa kuat rakyatnya menjaga kebersamaan. Dari podium Peringatan 1 Muharram 1448 Hijriah di Al Zaytun, ia menyampaikan pesan yang penuh harapan.
Bahwa Indonesia Raya bukan sekadar cita-cita, Indonesia Raya adalah pekerjaan bersama. Ia dibangun melalui dialog, diperkuat melalui persaudaraan, diwujudkan melalui kolaborasi.
Dan ia diwariskan kepada generasi mendatang melalui keteladanan. Karena pada akhirnya, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang bebas dari perbedaan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menjadikan perbedaan sebagai jalan menuju persatuan dan kemajuan bersama. (***)
(Ali Aminulloh)






