MDINEWS, Jakarta — Film komedi fantasi Harusnya Horror menggelar gala premiere di Studio 1 Epicentrum XXI, Jakarta, Kamis, 13 Agustus 2026. Film yang menjadi debut Reza Oktovian sebagai sutradara itu dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 20 Agustus 2026.
Gala premiere dihadiri para pemain dan kru, di antaranya Reza Oktovian, Yuka Theo, Niko Julius, Reina Fenska, Garry Ang, Bravy, Roni Pencandra, Teguh Prakoso alias Pepe, serta Aldy Renaldy alias King Aloy dan sejumlah pemain lainnya.
Film ini menawarkan perpaduan komedi, fantasi, horor, dan kisah persahabatan. Cerita berpusat pada Mas, seorang pria yang meninggal secara mendadak dan menjadi arwah penasaran.
Mas bukan hantu yang menyeramkan. Ia justru seorang wibu yang minder dan takut kepada manusia. Bahkan setelah meninggal, ia belum dapat beristirahat dengan tenang karena belum sempat menyaksikan episode terakhir anime favoritnya.
Dari akhirat, Mas mendapat tugas untuk menakut-nakuti 100 ribu manusia dalam waktu 30 hari. Dalam menjalankan misi tersebut, ia bertemu sekelompok kreator konten horor gadungan yang sedang mengalami krisis finansial.
Pertemuan itu melahirkan kesepakatan unik. Mas dijadikan sebagai “talent” utama untuk membuat konten horor. Konten yang awalnya dibuat demi mendapatkan penghasilan tersebut kemudian sukses dan viral.
Namun, popularitas justru membawa hubungan mereka ke arah yang lebih emosional. Mas harus memilih antara menyelesaikan misi demi bisa menonton anime favoritnya atau menyelamatkan kelompok kreator konten yang telah dianggapnya sebagai keluarga.
Penonton Tak Hanya Takut, tetapi Haru
Reaksi penonton setelah pemutaran gala premiere menjadi perhatian tersendiri. Film yang sejak awal dikemas sebagai komedi fantasi bertema horor ternyata membuat sejumlah penonton terbawa emosi hingga menangis.
Reza Oktovian mengaku senang melihat respons penonton yang beragam. Menurut dia, sejak awal dirinya ingin membuat film yang memberikan pengalaman emosional berbeda kepada setiap orang yang menyaksikannya.
“Pertama-tama gue terima kasih pertama-tama mau bilang thank you udah sempetin waktu dan mau nonton Harusnya Horror karya pertama kalau disodera ini untuk penyeberadaan saya terima kasih dan juga temen-temen juga acting untuk yang serius juga untuk pertama kalinya terima kasih juga,” ujar Reza.
Ia mengatakan, sebelumnya ada yang menyampaikan bahwa lima orang yang menonton film tersebut bisa saja keluar dengan perasaan berbeda.
“Kalau misalnya kalau nonton film ini tuh misalnya lima orang itu pasti akan pas keluar akan merasakan feelings yang berbeda-beda,” katanya.
Reaksi penonton dalam gala premiere, menurut Reza, memperlihatkan bahwa pesan tersebut benar-benar terjadi.
“Seperti yang sudah kalian nonton pasti setiap orang pasti punya dan merasakan hal yang berbeda-beda juga,” ujarnya.
Executive Producer David Suwarto juga mengaku senang melihat respons penonton. Ia menilai kerja keras seluruh tim dalam membuat film tersebut telah menghasilkan karya yang memiliki nilai emosional.
“Saya senang banget dengan semua reaksi dan ketawa-ketawanya dan diemnya di akhir. Dari awal kita membuat film ini juga deketan bikinnya dan ketika kita nonton filmnya pertama kali rasanya kok penuh dengan rasa, penuh dengan hati,” ujar David.
Ia berharap emosi yang dirasakan para pemain selama proses produksi dapat tersampaikan kepada penonton.
“Semoga rasa-rasa itu semua nyampe ke semua teman-teman yang ada di sini,” katanya.
Berawal dari Kecintaan pada Anime
Penulis skenario Rahabi Mandra mengungkapkan, proses penulisan Harusnya Horror menjadi pengalaman yang menyenangkan. Salah satu faktor yang membuat proses kreatif berjalan lancar adalah kesamaan kegemaran dirinya dan Reza terhadap anime.
“Aku sama Arap sama-sama fans One Piece. Jadi berangkatnya sebenarnya dari situ,” ujar Rahabi.
Menurut Rahabi, sejumlah karakter dalam One Piece turut menjadi referensi dalam membangun karakter film.
“Referensi kita gak jauh-jauh dari Luffy, Usopp, dan seterusnya. Itu pas kita cerita tuh langsung connect,” katanya.
Ia menyebut proses kreatif bersama Reza berlangsung menyenangkan, terutama karena keduanya memiliki referensi komedi dan anime yang relatif sama.
“Ini emang kita mau bikin, mau bawa komedi yang beda. Dan emang dibawa oleh Arap juga kan dengan komedinya dia. Aku juga jadi sangat masuk gitu. Jadi it’s been a fun, really fun journey writing with Arap,” ujar Rahabi.
Persahabatan Jadi Benang Merah
Selain komedi dan fantasi, persahabatan menjadi salah satu benang merah dalam Harusnya Horror. Para pemain Triple A Clan menjalani proses workshop dan bootcamp untuk membangun chemistry sebelum memasuki proses syuting.
Tierison, pemeran Kevin, mengaku sempat mengalami tekanan ketika pertama kali menjalani proses reading dan pendalaman karakter.
“Awal-awal lumayan stres, apalagi pas reading, ya lumayan stres, tapi akhirnya pas shooting itu ternyata tidak semenakutkan itu,” ujar Tierison.
Menurutnya, kehadiran acting coach membantu dirinya mengeksplorasi karakter Kevin.
Sementara itu, Yuka Theo mengaku senang mendapatkan kesempatan memainkan karakter Cipuy.
“Kalau dari saya sendiri, senang banget mengeksplorasi karakter yang sangat jenius, cemerlang, ceria, dan sangat cerdas,” kata Yuka.
Garry Ang, pemeran Kenzo, juga menyebut kebersamaan dengan para pemain menjadi pengalaman yang paling berkesan selama proses produksi.
“Yang paling memorable itu sangat berkesan karena ini pertama kalinya dan ini dilakukan bersama teman-teman,” ujar Garry.
Menurut Garry, kedekatan para pemain tidak hanya terbentuk ketika berada di depan kamera, tetapi juga ketika mereka beristirahat dan menghabiskan waktu bersama selama produksi.
Proses Bootcamp Bangun Chemistry
Niko Julius mengungkapkan, chemistry antara para pemain juga terbentuk karena intensitas kebersamaan mereka sebelum dan selama produksi.
“Pentingnya benar sih gak begitu susah karena memang sama Ibon sama Fikong kebagi dengan Marathon juga karena intens barengan jadi buat chemistry itu udah kebuild sendiri,” ujar Niko.
Ia menjelaskan, sebagian dialog dalam film dikembangkan bersama pemain, meski tetap berangkat dari skenario yang telah disiapkan.
“Kita improve sebagian, ada yang sebagian tapi yang memang kita ngikutin script aja sih, tinggal ditebelin emosinya segala macam,” katanya.
Salah satu proses yang dinilai membantu adalah workshop dan bootcamp. Para pemain mendapat kesempatan untuk saling mengenal dan membangun kedekatan sebelum syuting.
Menurut Reza, proses tersebut menjadi bagian penting karena sebagian pemain merupakan kreator konten yang baru pertama kali menjalani pengalaman serius di dunia akting.
“Film dari Hati Kita Bersembilan”
Teguh Prakoso alias Pepe menyebut Harusnya Horror sebagai karya yang lahir dari perjalanan sembilan pemain yang terlibat dalam kelompok tersebut.
Menurut Pepe, salah satu tantangan Reza sebagai sutradara adalah membagi porsi sembilan karakter secara tepat.
Namun, ia menilai Reza memiliki gagasan yang cerdas dalam memberikan ruang kepada masing-masing karakter.
“Karena menurutku gak semua pembagian itu harus sama rata,” ujar Pepe.
Pepe juga memberikan pesan kepada rekan-rekannya yang untuk pertama kalinya menjalani pengalaman sebagai aktor film.
“Selamat ya kalian udah jadi aktor,” katanya.
Ia kemudian menyampaikan harapannya kepada penonton.
“Film ini merupakan film dari hati kita bersembilan dan semoga bisa nyampe ke hati semua yang nonton,” ujar Pepe.
Pesan mengenai persahabatan juga disampaikan Reina Fenska. Ia mengingatkan pentingnya memanfaatkan waktu bersama orang-orang terdekat.
“Apapun itu sama sahabat kalian, gimana pun juga jangan sia-siakan waktu kalian bersama mereka, karena nyesel lah kalau misalnya gak ngakak bareng, gak deket bareng, gak ngobrol bareng,” kata Reina.
Menurut Reina, kebersamaan menjadi bagian penting dalam proses membangun chemistry dengan para pemain lainnya.
Reza Rayakan Legacy Lula Lahfah
Dalam konferensi pers, Reza juga menyampaikan penghormatan kepada mendiang Lula Lahfah yang menjadi salah satu pemain utama Harusnya Horror sebagai Gea.
Reza menegaskan, kehadiran Lula dalam film tersebut merupakan bagian penting dari karya yang mereka buat bersama.
“Waktu itu sempat waktu di Harusnya nonton duluan itu sempat aku ngasih satu spot gitu khusus gitu untuk almarhumah beliau dan itu sempat bukan diejek tapi dihujat gitu. And I swear to God saya tidak peduli saya akan tetap merayakan Lula karena ini legacy dia juga di film ini,” ujar Reza.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu momen emosional dalam konferensi pers, terlebih karena Lula telah berpulang sebelum film tersebut ditayangkan kepada masyarakat luas.
Reza Ingin Eksplorasi Kemampuan Baru
Sebagai sutradara sekaligus pemeran utama, Reza mengatakan film ini menjadi ruang baginya untuk mengeksplorasi kemampuan baru. Hal serupa juga diharapkannya terjadi kepada para pemain lain yang sebagian besar baru pertama kali serius berakting.
Menjawab pertanyaan mengenai tujuan awal membuat film tersebut, Reza menyebut keinginannya mengeksplorasi kemampuan diri sekaligus membuka kesempatan bagi rekan-rekannya untuk mencoba dunia akting.
“Gue pribadi, gue pengen bisa explore diri gue sendiri, skillset-skillset yang baru, dan juga pengen yang lain juga bisa membuka skillset yang baru juga, which is acting. Itu, itu aja sih,” ujarnya.
Reza mengaku puas dengan penampilan para pemain, terutama karena mereka telah memberikan kemampuan terbaik meski sebagian baru pertama kali menjalani proses akting film.
“Kalau dibilang puas sama acting-acting semuanya di sini, otomatis puas karena mereka sudah memberikan yang terbaik apalagi untuk pertama kalinya,” katanya.
Namun, Reza menilai perjalanan para pemain masih panjang. Ia ingin mereka terus mengeksplorasi kemampuan melalui pengalaman baru di industri perfilman.
“Dunia ini, dunia perfilman itu luas dan gue pengen mereka benar-benar bisa mengeksplorasi, bukan cuma dari segi karakter, tapi dari ketemu orang-orang barunya dari tim, kru, dari situnya sih karena dari situlah yang akan membentuk pribadi mereka ke depannya,” ujarnya.
Ketika ditanya kemungkinan kembali bekerja bersama Triple A Clan dalam film berikutnya, Reza belum memberikan kepastian.
Ia memilih meminta publik melihat terlebih dahulu penerimaan terhadap Harusnya Horror.
“Gue cuma bisa jawab, lihat aja hasilnya dulu. Semoga hasilnya yang ini bisa diterima dengan baik,” kata Reza.
Sementara itu, Jimmy Lalwani menegaskan pihaknya tidak ingin terpaku pada satu genre. Menurutnya, rumah produksi akan terus mengeksplorasi gagasan-gagasan baru dan di luar kebiasaan.
“SD akan terus mengeksplorasi hal-hal yang baru dan out of the box,” ujar Jimmy.
Dari Komedi Horor Menuju Kisah Emosional
Kehadiran Harusnya Horror tidak hanya mengandalkan unsur kelucuan dan situasi horor yang absurd. Film ini juga membawa perjalanan emosional mengenai kehilangan, persahabatan, keluarga, dan pilihan hidup.
Premis tentang hantu yang takut kepada manusia menjadi pintu masuk bagi cerita yang berkembang menjadi hubungan antara Mas dan kelompok kreator konten tersebut.
Bagi Reza, perbedaan respons penonton justru menjadi bagian yang ingin dicapai dari film ini. Ia berharap penonton tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga membawa pulang perasaan dan pesan masing-masing setelah menyaksikannya.
Menutup konferensi pers, Reza menyampaikan apresiasi kepada awak media dan penonton yang hadir dalam gala premiere.
“Harusnya Horror itu, harusnya sih meledak,” ujar Reza, disambut tepuk tangan para cast dan kru.
Film Harusnya Horror dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 20 Agustus 2026.
Film ini dibintangi Reza Oktovian sebagai Mas, mendiang Lula Lahfah sebagai Gea, Tierison sebagai Kevin, Garry Ang sebagai Kenzo, dan Yuka Theo sebagai Cipuy, serta sejumlah pemeran pendukung lainnya.
Film disutradarai Reza Oktovian, dengan Muhammad Fiqih Firdaus sebagai co-director. Skenario ditulis Rahabi Mandra dan Syahrun Ramadhan. Sridhar Jetty dan Jimmy Lalwani bertindak sebagai produser, David Suwarto sebagai executive producer, dan Sony Seniawan sebagai sinematografer. (***)






