width=
width=

Jebakan Autopilot Usia 21: Ketika Kerja Terasa Sampingan dan Hati Merindukan Makna

Sumber/Dok. Blog.balacedawakening

MDI.NEWS | Bekasi – Bangun pagi, kerja, scroll HP, tidur. Lalu esoknya, siklus yang sama berulang lagi. Bagi banyak orang di usia 20-an, rutinitas ini terasa aman sekaligus hambar seperti berjalan tanpa benar-benar merasa hidup.

Fenomena ini bukan sekadar perasaan personal. Riset Oliver Robinson dari University of Greenwich menyebut periode ini sebagai quarter-life crisis, masa ketika anak muda usia 20–25 tahun merasa terjebak dalam rutinitas dan dihantui kecemasan akan arah hidup ke depan.

Sensasi “melayang” saat menjalani rutinitas ini juga dikonfirmasi riset Harvard oleh Killingsworth dan Gilbert. Mereka menemukan hampir separuh waktu bangun manusia dihabiskan dalam mode autopilot, pikiran melayang ke tempat lain saat tubuh bergerak otomatis. Kondisi ini terbukti menurunkan rasa bahagia.

Di titik inilah banyak orang mulai mencari sesuatu yang lebih dalam dari sekadar rutinitas dan pencapaian materi. Viktor Frankl, lewat teori logoterapi, menegaskan manusia tidak bisa bahagia hanya dari kesibukan kerja. Manusia butuh makna hidup dan nilai spiritual agar jiwa tidak jatuh ke existential vacuum kehampaan eksistensial.

Bagi sebagian orang, kesadaran ini justru jadi titik balik untuk menata ulang prioritas: bekerja sebagai pelengkap, sementara ibadah dan bekal akhirat ditempatkan sebagai yang utama.

Perubahan besar tidak harus dimulai dari langkah besar. Detoks layar HP beberapa jam sehari, konsisten satu kebiasaan ibadah kecil, atau journaling singkat sebelum tidur bisa jadi titik awal.

Rasa hampa di usia 21 bukan tanda kegagalan. Ia justru sinyal bahwa jiwa sedang meminta ruang untuk bertumbuh ke arah yang lebih bermakna.

WWW.MDI.NEWS