Mdinews, JAKARTA — Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI) menggandeng Serikat Penggerak Pendidikan Masyarakat Indonesia (SP2MI) untuk memperkuat program Sekolah Rakyat (SR) dan pendidikan kesetaraan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di Jakarta, Kamis (13/8/2026). Kolaborasi ini diarahkan untuk mempercepat penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) dan Anak Putus Sekolah (APS), khususnya dari keluarga miskin dan kelompok masyarakat yang belum tersentuh pendidikan formal.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan, jumlah ATS di Indonesia berdasarkan data resmi telah mencapai lebih dari empat juta orang. Namun, ia menilai angka tersebut masih berpotensi lebih besar karena persoalan ATS dinilai seperti fenomena gunung es.
“Kita menemukan banyak orang di jalan ini nggak sekolah. ATS itu empat juta lebih. Saya lihat data resminya, saya kira selalu data kita fenomena gunung es. Bisa jauh lebih besar dari data ini,” kata Saifullah Yusuf.
Menurutnya, persoalan ATS juga banyak terjadi pada anak yang tidak melanjutkan pendidikan dari jenjang SD ke SMP. Karena itu, Sekolah Rakyat diharapkan menjadi instrumen negara untuk menjangkau kelompok masyarakat yang terputus dari sistem pendidikan formal akibat persoalan ekonomi maupun sosial.
Saifullah menegaskan, Sekolah Rakyat tidak hanya memberikan pembelajaran akademik. Peserta didik juga mendapatkan pembinaan mental, spiritual, dan karakter secara intensif.
Program tersebut diprioritaskan bagi keluarga dengan tingkat kesejahteraan paling rendah, termasuk kelompok miskin ekstrem. Penerimaan peserta didik mempertimbangkan kondisi sosial-ekonomi keluarga, usia, serta kriteria kesejahteraan.
Ketua Umum SP2MI Drs. H. Amirudin Yusuf mengatakan, pihaknya siap mendukung pemerintah melalui jaringan tenaga pendidik dan relawan yang dimiliki.
Kemensos, kata Amirudin, telah menawarkan 15 sentra Sekolah Rakyat yang belum terisi untuk diperkuat melalui pendidikan kesetaraan.
“Tadi seperti diungkapkan oleh Pak Menteri, beliau sangat antusias. Yang pertama, beliau menawarkan sentra-sentra Sekolah Rakyat yang kosong. Ada 15 sekolah, SP2MI nanti membantu dalam pendidikan kesetaraannya,” ujarnya.
Untuk mendukung program tersebut, SP2MI akan menyiapkan peningkatan kapasitas atau skill up bagi tutor yang nantinya ditempatkan di sentra-sentra pendidikan Kemensos.
Kerja sama Kemensos dan SP2MI mencakup integrasi data kesejahteraan sosial, pengembangan kurikulum vokasi, penjangkauan ATS, peningkatan kapasitas tutor, pemberdayaan ekonomi keluarga melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE), serta pemantauan program secara berkala.
Program akan dipantau setiap enam bulan melalui Tim Pokja Bersama. Langkah tersebut diharapkan memastikan penanganan ATS dan APS berjalan tepat sasaran sekaligus dapat segera diperbaiki apabila ditemukan kendala di lapangan.
Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya mengembalikan anak ke jalur pendidikan, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan dan peluang ekonomi agar mampu memutus rantai kemiskinan antargenerasi.






