width=
width=

Rais Iskandar Ungkap Sejarah Kerajaan Kubu, Berawal dari Ulama Hadramaut hingga Enam Raja

MDI.NEWS,BekasI — Sejarah Kerajaan Kubu di Kalimantan Barat memiliki perjalanan panjang yang tidak terlepas dari peran ulama asal Hadramaut, Yaman Selatan. Jejak sejarah tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah kerajaan Islam yang diwariskan secara turun-temurun hingga generasi saat ini.

Hal tersebut disampaikan Rais Iskandar, yang memperkenalkan dirinya sebagai keturunan keenam Raja Kubu. Rais juga menyebut dirinya sebagai Panglima Besar Kerajaan Kubu, Kerajaan Ambawang, dan Kerajaan Kertamuliya, pada Kamis (13/8/2026) di Resort Kebon Indah, Wibawa mukti, Bekasi.

Dalam wawancara bersama awak media di Jakarta, Rais menjelaskan secara langsung mengenai sejarah, silsilah, serta perjalanan Kerajaan Kubu yang menurutnya selama ini belum banyak diketahui masyarakat luas.

“Kerajaan Kubu itu sejarahnya berawal dari seorang ulama. Namanya Sayid Idrus bin Abdurrahman Al-Idrus, yang berasal dari Yaman Selatan, tepatnya Tarim, Hadramaut,” kata Rais.

Menurut Rais, Sayid Idrus datang ke Nusantara bersama sepupunya, Syed Husin bin Abu Bakar Al-Idrus, yang kemudian dikenal dalam sejarah masyarakat sebagai Keramat Luar Batang.

Keduanya kemudian tiba di wilayah Batavia, yang kini dikenal sebagai Jakarta. Sayid Idrus selanjutnya menetap dan menikah dengan seorang perempuan bernama Sharifa Ullawa.

Dari perkawinan tersebut lahir dua orang anak, yakni Sayid Muhammad Al-Idrus dan Abdurrahman.

Rais menuturkan perjalanan Sayid Idrus kemudian berlanjut ke Palembang setelah mendapat undangan dari Sultan Mahmud Badaruddin I, yang bergelar Sultan Candiwalang.

“Di Palembang beliau dijadikan mufti dan kemudian dikawinkan dengan putri Sultan Palembang yang bernama Ratu Kimasindi,” ujar Rais.

Dari perkawinan tersebut, lanjut Rais, lahir dua anak, yakni Saripa Muzayana dan Sayid Alwi Al-Idrus.

Dari Ulama Menjadi Raja Kubu

Rais mengatakan, perjalanan Sayid Idrus kemudian berlanjut ke Kalimantan. Di wilayah tersebut, ia bertemu dengan Sayid Hussein bin Ahmad Jamalulail, yang memiliki hubungan dengan lingkungan Kerajaan Mempawah.

Pada awal kedatangannya di Kalimantan, Sayid Idrus disebut bukan seorang raja, melainkan seorang ulama yang melakukan dakwah dan penyebaran agama Islam.

“Awalnya beliau bukan seorang raja, tetapi seorang ulama dan penyebar agama. Setelah berkembang, akhirnya beliau diangkat menjadi raja,” tutur Rais.

Sayid Idrus kemudian dikenal dengan gelar Tuan Besar Raja Kubu.

Menurut Rais, sebutan Kubu memiliki makna benteng atau pertahanan. Ia mengaitkan nama tersebut dengan posisi Kerajaan Kubu yang pada masa itu menjadi salah satu kekuatan yang menghadapi pengaruh kolonial Belanda di wilayah tersebut.

“Beliau disebut Raja Kubu. Kubu itu artinya benteng. Memang kerajaan itu menjadi benteng untuk menahan lajunya Belanda,” jelas Rais.

Enam Raja dalam Silsilah Kerajaan Kubu

Rais menjelaskan, kepemimpinan Kerajaan Kubu kemudian diteruskan secara turun-temurun.

Raja pertama adalah Sayid Idrus, kemudian diteruskan oleh Sayid Muhammad, lalu Sayid Abdurrahman, Ismail, Hasan, dan terakhir Tuanku Sharif Abbas Al-Idrus.

“Raja Kubu yang pertama Sayid Idrus. Setelah beliau meninggal digantikan anaknya, Sayid Muhammad. Kemudian Syed Abdurrahman, Ismail, Hasan, dan terakhir Tuanku Sharif Abbas Al-Idrus. Beliau Raja Kubu yang keenam dan terakhir,” ungkap Rais.

Setelah periode tersebut, Kerajaan Kubu mengalami perubahan seiring perkembangan sejarah dan masuknya pemerintahan kolonial.

Namun, menurut Rais, berakhirnya pemerintahan kerajaan secara politik tidak serta-merta menghilangkan garis keturunan, adat, budaya, dan sejarah yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Rais juga menjelaskan hubungan keluarganya dengan sejumlah kerajaan di Kalimantan Barat.

Menurutnya, terdapat hubungan sejarah dan garis keturunan antara Kerajaan Kubu, Kerajaan Ambawang, dan Kerajaan Kertamuliya.

“Kalau Kerajaan Kubu ini dari garis bapak, kemudian Kerajaan Ambawang dari garis anak. Kakek saya merupakan Raja Ambawang,” ujar Rais.

Ia juga menjelaskan bahwa salah satu leluhurnya, Sayid Alwi Al-Idrus, pernah dipercaya menjadi mufti di lingkungan Kesultanan Yogyakarta.

Rais menerangkan, istilah mufti merujuk pada seorang ulama yang memiliki kapasitas keilmuan dalam persoalan hukum agama dan memberikan pandangan keagamaan kepada lingkungan kesultanan.

Pelestarian Sejarah dan Adat Kerajaan

Rais mengatakan, keberadaan Kerajaan Kubu saat ini lebih diarahkan pada upaya menjaga adat, budaya, sejarah, dan silsilah keluarga kerajaan.

Setelah Raja Kubu ketujuh, Sayid Syahril Al-Idrus, meninggal dunia, Rais menyebut dirinya dipercaya menjalankan fungsi sebagai pemangku sementara Kerajaan Kubu.

“Setelah Raja Kubu yang ketujuh meninggal, sementara saya yang memegang sebagai pemangku kerajaan,” kata Rais.

Ia menegaskan, pelestarian keberadaan kerajaan saat ini bukan semata-mata mengenai gelar atau simbol, melainkan bagaimana sejarah dan warisan budaya leluhur tetap dikenal oleh generasi muda.

Menurut Rais, berbagai dokumen, sertifikat, dan administrasi organisasi kerajaan juga menjadi bagian dari upaya pendataan dan pelestarian sejarah tersebut.

“Yang penting sejarahnya jangan sampai hilang. Adat, budaya, silsilah dan perjuangan para leluhur harus diketahui generasi berikutnya,” pungkas Rais.

Sejarah Kerajaan Kubu, menurut Rais, menjadi salah satu bagian dari kekayaan sejarah Nusantara yang memperlihatkan pertemuan antara tradisi Islam, pemerintahan kerajaan, budaya lokal, serta perjalanan masyarakat Kalimantan Barat dari masa ke masa.

WWW.MDI.NEWS